HSEs innovate amid resource constraints, adapting strategies during pandemics. Collaboration crucial for efficiency, resilience in humanitarian sector.
/

Membatasi atau membebaskan? Bagaimana COVID-19 mempengaruhi inovasi sosial dalam lingkungan kemanusiaan?

HSE berinovasi di tengah keterbatasan sumber daya, mengadaptasi strategi selama pandemi. Kolaborasi sangat penting untuk efisiensi dan ketahanan di sektor kemanusiaan.

Artikel berjudul "Kelangkaan Sumber Daya dan Inovasi Sosial Kemanusiaan: Pengamatan dari Bantuan Kelaparan dalam Konteks Pandemi COVID-19" menggali strategi dan inovasi yang digunakan oleh usaha sosial kemanusiaan (humanitarian social enterprise/HSE) di Amerika Serikat untuk mengatasi masalah kelaparan di tengah tantangan yang ditimbulkan oleh sumber daya yang terbatas, terutama di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Dengan menggunakan metode studi kasus longitudinal, penelitian ini meneliti bagaimana kemampuan inovasi HSE bervariasi antara kondisi biasa dan selama peristiwa luar biasa seperti pandemi COVID-19. Pendekatan ini melibatkan studi tentang fenomena yang sama pada berbagai interval waktu, dengan memberikan perspektif sebelum pandemi dan era pandemi.

Pada saat terjadi kelangkaan atau kelimpahan, HSE dapat mendorong inovasi sosial yang signifikan dengan menyesuaikan strategi mereka dengan lingkungan sumber daya mereka, yang menggambarkan potensi ketahanan dan dampak di sektor kemanusiaan.

Iana Shaheen

Inovasi sosial dan bantuan kemanusiaan

Inovasi sosial, seperti yang didefinisikan oleh Pol dan Ville (2009), adalah pendekatan baru yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sosial yang belum terpenuhi. Inovasi sosial memainkan peran penting dalam memungkinkan HSE mencapai misi mereka secara efisien. Sebagai contoh, sebuah HSE di Florida menjalin kemitraan inovatif dengan petani dan restoran lokal, membantu mendapatkan produk segar yang mungkin akan terbuang percuma karena gangguan dalam rantai pasokan.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok dalam pendekatan inovasi antara pihak-pihak yang beroperasi di lingkungan dengan sumber daya terbatas dan lingkungan yang kaya sumber daya. Dalam konteks kelangkaan, HSE harus mengambil langkah-langkah inventif dengan memanfaatkan kemampuan kolaboratif. Hal ini memerlukan pembentukan aliansi dan kemitraan dengan organisasi lain untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya bersama. Sebaliknya, dalam lingkungan dengan sumber daya yang melimpah, HSE dapat berkonsentrasi pada asimilasi dan penerapan pengetahuan eksternal, memanfaatkan masuknya informasi dan sumber daya untuk mendorong inovasi. Namun demikian, strategi-strategi ini menunjukkan variabilitas antara kondisi umum dan keadaan luar biasa yang terjadi selama pandemi COVID-19.

Membatasi atau membebaskan? Bagaimana COVID-19 mempengaruhi inovasi sosial dalam lingkungan kemanusiaan?
Kredit. Midjourney

Inovasi sosial secara berkala: Membedakan di antara ketersediaan sumber daya

Studi ini menekankan peran penting dari konteks operasional dalam membentuk pendekatan yang diadopsi oleh HSE menuju inovasi sosial. Dalam kondisi operasional konvensional, HSE yang berada di lingkungan dengan sumber daya terbatas sangat bergantung pada kemampuan kolaboratif. Hal ini memerlukan pengembangan hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti petani dan pusat distribusi, untuk membangun jalan baru untuk optimalisasi sumber daya dan distribusi barang yang mudah rusak secara efisien.

Contoh yang menarik dari inovasi sosial dicontohkan oleh salah satu HSE, di mana, di bawah kepemimpinan presidennya, organisasi ini berhasil memprakarsai proyek lahan kebun sayur melalui upaya kolaboratif. Upaya ini melibatkan keterlibatan aktif dari penduduk setempat dan mendapatkan dukungan dari perusahaan pertamanan. Selain menyediakan sumber pangan yang berkelanjutan, inovasi ini juga memupuk keterlibatan dan kemitraan dengan masyarakat, yang menjadi bukti pendekatan inovatif untuk mengatasi kelangkaan pangan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat setempat.

Sebaliknya, HSE di lingkungan dengan sumber daya yang melimpah mengandalkan asimilasi dan penerapan pengetahuan eksternal, seperti riset pasar dan wawasan dari organisasi mitra, untuk mengembangkan solusi inovatif. Contoh inovasi sosial dalam HSE adalah keterlibatan mereka dalam inisiatif penelitian organisasi bantuan kelaparan nasional. HSE ini secara aktif terlibat dalam konferensi dan webinar yang diselenggarakan oleh entitas seperti Feeding America, FEMA, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mendapatkan wawasan yang berharga untuk meningkatkan strategi operasional mereka.

Inovasi sosial di masa COVID: Pembelajaran dan perubahan strategi

Munculnya pandemi COVID-19 menciptakan keadaan operasi yang luar biasa bagi HSE, sehingga mendorong adaptasi yang cepat dalam pendekatan inovasi mereka. HSE yang beroperasi di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas terlibat dalam 'bricolage paralel', dengan cerdik memanfaatkan beragam sumber daya yang dapat diakses untuk berbagai tujuan guna mengatasi lonjakan permintaan yang tiba-tiba dan hambatan operasional dengan cepat. Hal ini termasuk mengorganisir tim sukarelawan konsultan hukum dan keselamatan secara daring, mengembangkan acara penggalangan dana virtual, dan mengatur ulang operasi untuk memenuhi mandat jaga jarak sosial.

Namun, seiring berkembangnya pandemi, strategi adaptasi mengalami pergeseran. Ketika HSE menjadi lebih terbiasa dengan kondisi pandemi yang sedang berlangsung, mereka beralih ke 'bricolage selektif', mengarahkan upaya dan sumber daya mereka secara lebih strategis ke arah solusi yang ditargetkan dan bidang-bidang yang dibutuhkan. Misalnya, untuk mematuhi pedoman pembatasan sosial, HSE beralih ke model distribusi Lantatur (drive-through), untuk memastikan penyediaan makanan yang aman dengan tetap menjaga efisiensi distribusi. Selain itu, seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang pandemi, mereka meningkatkan donasi makanan melalui kampanye media sosial. Mereka menyesuaikan layanan mereka untuk memenuhi kebutuhan populasi berisiko tinggi dengan menerapkan pengantaran paket makanan di depan pintu rumah.

Singkatnya, pengalaman "menyesuaikan diri (making do)" dengan sumber daya yang terbatas muncul sebagai sebuah keuntungan, yang memungkinkan pengembangan solusi inovatif di tengah-tengah kelangkaan sumber daya yang parah.

Hal-hal penting yang dapat diambil

Sudah jelas bahwa inovasi sosial merupakan elemen penting dalam ketahanan dan kemakmuran HSE. Namun demikian, ada kerumitan terkait jenis inovasi sosial yang perlu dipertimbangkan oleh manajer HSE.

Bagi HSE yang memiliki sumber daya yang melimpah, fokusnya harus pada pemanfaatan sumber daya internal untuk mendorong inovasi. Pendekatan ini dicontohkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkemuka seperti UNHCR dan Program Pangan Dunia, yang telah membentuk departemen inovasi khusus. Organisasi-organisasi ini telah dengan mahir mengarahkan sumber daya mereka yang cukup besar untuk mengembangkan inovasi di berbagai bidang, termasuk kemajuan dalam pembangunan sosial seperti sanitasi air, kebersihan, dan inisiatif medis.

Pada saat yang sama, HSE dengan sumber daya yang terbatas didorong untuk mencari kerja sama dengan pihak lain dan memanfaatkan sumber daya dan keahlian dari berbagai mitra. Pendekatan ini terbukti tidak hanya efektif tetapi juga efisien, dengan hanya membutuhkan investasi finansial yang minimal. Sebagai ilustrasi nyata dari kolaborasi dan inovasi, CEO sebuah HSE menjelaskan bagaimana kolaborasi mereka dengan toko bahan makanan dan petani secara substansial dapat mengurangi biaya pengelolaan limbah. Kemitraan ini memungkinkan mereka untuk secara bijaksana memanfaatkan sumber daya yang jika dibiarkan terbuang percuma, menunjukkan pendekatan inovatif terhadap pengelolaan sumber daya dan pengurangan biaya dalam upaya kemanusiaan mereka. Selain itu, penelitian ini menganjurkan strategi inovasi yang hemat biaya, yang menunjukkan bahwa "memanfaatkan" sumber daya yang tersedia dan secara kreatif menggabungkan kembali aset yang ada seringkali dapat menghasilkan solusi yang sangat efektif.

Masa-masa yang drastis seringkali membutuhkan tindakan yang drastis. Di tengah pandemi COVID-19, beberapa HSE tertentu menggunakan bricolage paralel, yang mengalokasikan sumber daya mereka yang terbatas di seluruh spektrum upaya inovatif. Misalnya, mereka berinovasi dalam metode pengadaan dan distribusi, seperti menggunakan kembali bus sekolah untuk mengantarkan makanan kepada anak-anak yang bergantung pada makanan di sekolah.

Secara keseluruhan, studi ini memberikan panduan berharga bagi HSE yang beroperasi di sektor kemanusiaan, yang menunjukkan bahwa inovasi dapat dicapai melalui jalur yang kaya sumber daya maupun yang langka sumber daya. Studi ini menyoroti pentingnya pertimbangan strategis dalam menciptakan inovasi sosial dan memberikan ilustrasi praktis tentang bagaimana organisasi dapat menyesuaikan strategi mereka agar sesuai dengan lingkungan sumber daya mereka yang unik.

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi jurnal

Shaheen, I., Azadegan, A., & Davis, D. F. (2023). Resource scarcity and humanitarian social innovation: observations from hunger relief in the context of the COVID-19 pandemic. Journal of Business Ethics182(3), 597-617. https://doi.org/10.1007/s10551-021-05014-9

Iana Shaheen adalah Asisten Profesor Manajemen Rantai Pasokan di Fakultas Bisnis Walton di Universitas Arkansas. Minat penelitiannya berfokus pada kepemimpinan, ketidakpastian, dan gangguan dalam pengaturan rantai pasokan. Secara khusus, Dr. Shaheen meneliti bagaimana gangguan memengaruhi rantai pasokan komersial dan menyelidiki pentingnya kepemimpinan dan ketahanan selama tahap respons dan pemulihan. Selain itu, Dr. Shaheen juga mempelajari hubungan antar organisasi dalam rantai pasokan kemanusiaan. Penelitiannya telah dipublikasikan di Jurnal Production and Operations Management. Sebelum di dunia akademis, ia bekerja sebagai analis rantai pasokan senior di industri.

Dr. Arash Azadegan adalah seorang Profesor di departemen Manajemen Rantai Pasokan di Fakultas Bisnis Rutgers. Penelitiannya berfokus pada gangguan rantai pasokan dan dampak dari respons antar organisasi dan upaya pemulihan untuk mengatasinya. Dia memiliki beberapa publikasi yang terkait dengan ketahanan rantai pasokan dan respons bencana dalam pengaturan komersial dan kemanusiaan. Karya Dr. Azadegan dipublikasikan di beberapa jurnal Manajemen Operasi dan Rantai Pasokan terkemuka seperti Journal of Operations Management, Production and Operations Management Journal, Journal of Business Ethics, dan Journal of Supply Chain Management.