//

Bagaimana musik dan suara dapat membantu memajukan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB

Peran apa yang dapat dimainkan oleh musik dan suara dalam mendorong dan memungkinkan pembangunan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik dan sekitarnya?

Seni dan budaya tidak secara eksplisit terwakili dalam SDG (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), sebuah agenda global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, para pemangku kepentingan lokal, nasional, dan internasional semakin menyadari pentingnya seni dan budaya dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa musik, misalnya, memiliki peran penting dalam mendorong dan memungkinkan pembangunan berkelanjutan.

Namun, musik dan suara masih sangat minim ditampilkan dalam aksi kebijakan untuk mencapai SDG. Bagaimana musik dan suara dapat membantu memajukan SDG? Nilai apa yang dapat diperoleh dari pengintegrasian musik dan suara secara lebih mendalam ke dalam upaya pembangunan berkelanjutan? Dalam penelitian terbaru, kami beralih ke tiga inisiatif budaya di wilayah kami, Asia Pasifik, untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini.

Jika SDG ingin diwujudkan pada tahun 2030, seperti yang diharapkan oleh PBB, komunitas dunia harus melakukan segala cara. Hal ini berarti mengeksplorasi cara-cara yang kurang lazim dan tidak konvensional untuk memajukan pembangunan berkelanjutan, seperti melalui musik dan suara.

Catherine Grant

Mempromosikan kesehatan, kesetaraan, dan ketahanan melalui musik

Pada tahun 2020, di pulau Sumba, Indonesia, organisasi non-pemerintah (LSM) lokal Pembangunan Terpadu Sumba meluncurkan proyek Revitalisasi Aset Budaya Tradisional Marapu. Inti dari proyek ini adalah musik tradisional dan ekspresi budaya lainnya dari masyarakat Marapu, penganut agama adat Marapu. 

Dalam beberapa tahun terakhir, praktik-praktik budaya unik yang terkait dengan agama Marapu telah mengalami penurunan. Perpindahan agama yang cepat dari penganut Marapu ke agama Kristen, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan dan stigmatisasi sosial terhadap penganut Marapu, telah menyebabkan masyarakat Marapu di Sumba Timur menghadapi tantangan sosial dan budaya yang serius.

Dalam mendukung masyarakat Marapu untuk mendokumentasikan, merevitalisasi, dan merayakan praktik-praktik budaya tradisional mereka, proyek SID telah memberikan hasil yang jelas dalam hal keberlanjutan budaya. Namun, meningkatkan profil ekspresi budaya Marapu juga telah memajukan tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama di bidang kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3), kesetaraan sosial (SDG10), dan komunitas berkelanjutan (SDG11).

Selama pandemi Covid-19, misalnya, terinspirasi oleh lokakarya dan pertunjukan proyek, seniman Marapu (seperti Ata Ratu) mulai menggunakan bentuk-bentuk lagu tradisional untuk menyebarluaskan informasi kesehatan yang sesuai dengan budaya kepada komunitas mereka. Video-video yang dibagikan secara luas ini mendorong masyarakat Marapu (dan masyarakat lainnya) untuk terlibat dalam praktik-praktik kesehatan, untuk tetap terhubung secara sosial meskipun berada di tempat yang jauh, dan untuk tetap kuat menghadapi tantangan pandemi.

Ringkasan Video: Melalui lagu, penyanyi Marapu, Ata Ratu, berbagi pesan kesehatan dan kesejahteraan dengan komunitasnya

Masyarakat Marapu juga telah memanfaatkan hasil proyek untuk berhasil mengadvokasi dukungan pemerintah daerah yang lebih besar terhadap budaya tradisional Marapu, dan rekaman proyek serta materi lainnya telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah di seluruh Sumba Timur. Dengan cara-cara ini, proyek ini terus mendukung upaya pembangunan dengan memajukan kesetaraan bagi masyarakat Marapu di masyarakat Sumba yang lebih luas.

Mempertahankan kehidupan di bawah air melalui suara

Sebuah inisiatif yang menggunakan suara dalam pembangunan berkelanjutan adalah proyek dari Australia, River Listening. Dengan membuat rekaman audio hidrofon (bawah air), para peneliti dapat mendeteksi keberadaan (atau ketiadaan) spesies tertentu. Dengan cara ini, mereka dapat mengukur kesehatan sungai secara non-invasif, melalui suara, dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaikinya.

Mendengarkan Sungai (River Listening) juga melibatkan komunitas lokal dalam upaya konservasi air tawar. Sebagai contoh, masyarakat didukung untuk membuat 'jalan-jalan suara (sound walks)', berbasis realitas tertambah. Dengan menggunakan aplikasi ponsel, pendengar dapat berjalan menyusuri sungai sambil mendengarkan lanskap suara bawah air. Mereka juga dapat mendengarkan suara-suara penduduk setempat yang menceritakan kisah-kisah tentang kehidupan di atas dan di bawah air. Dengan merasakan dan menggunakan suara secara kreatif, masyarakat dapat memahami dan menghargai sistem sungai setempat dengan cara yang baru.

Mendengarkan Sungai (River Listening) juga terlibat dalam aksi iklim (SDG 13), dengan menarik perhatian pada dampak krisis iklim terhadap penurunan keanekaragaman hayati di ekosistem sungai. Hal ini mendorong masyarakat yang berkelanjutan (SDG 11), dengan mendorong masyarakat untuk berbagi sumber daya dan pengetahuan lokal, serta mengembangkan praktik lingkungan yang berkelanjutan. Dan dalam menginspirasi masyarakat untuk belajar tentang, dan peduli terhadap, kehidupan bawah air, mendukung dan mempertahankan kehidupan di bawah air (SDG 14).

Ringkasan Video: Proyek penelitian universitas "River Listening" telah menggabungkan seni dan sains dalam menilai kesehatan ekologi Sungai Thames

Memajukan aksi iklim melalui budaya tradisional

Contoh terakhir kami mengaburkan batasan antara musik dan suara. Di pulau Espiritu Santo di negara Vanuatu di Pasifik, masyarakat desa Leweton menggunakan praktik budaya tradisional mereka, yaitu Ëtëtungatau "Musik Air Perempuan Vanuatu" - untuk mendorong aksi iklim yang lebih kuat dan lebih adil.

Dalam praktik Ëtëtung, sekelompok perempuan dan anak perempuan berdiri setinggi pinggang di perairan dangkal di pesisir pantai, anak sungai, atau kubangan air, dan menampar permukaan air dengan berbagai cara, sehingga menciptakan serangkaian suara yang mengejutkan. Suara-suara ini mencerminkan suara-suara yang ada di lingkungan alam-panggilan spesies ikan atau burung tertentu, atau suara hujan di atas batu. Ketika dampak krisis iklim mulai terasa, perubahan suara lingkungan setempat tercermin dalam suara Ëtëtung.

Ëtëtung yang merupakan praktik budaya yang khas dan menarik, membuat masyarakat Leweton secara rutin diundang untuk tampil di festival, konferensi, dan simposium, baik di Vanuatu maupun di luar negeri. Undangan-undangan ini menawarkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam diskusi kebijakan dan ilmiah yang penting mengenai pengelolaan air, pemeliharaan lingkungan, dan krisis iklim (SDG 13). Dengan cara ini, masyarakat Leweton menarik perhatian regional dan internasional terhadap dampak perubahan iklim pada komunitas adat di pulau kecil mereka.

Ringkasan Video: Trailer resmi untuk film 'Musik Air Perempuan Vanuatu', yang menampilkan gadis-gadis dan perempuan desa Leweton

Dengan menghasilkan pendapatan melalui pariwisata budaya, Ëtëtung juga meningkatkan prospek ekonomi bagi penduduk desa (SDG 8). Pada gilirannya, kekuatan ekonomi meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap guncangan eksternal (SDG 11), seperti badai tropis yang sering melanda negara ini. Dengan memberikan kesempatan kepada anak perempuan dan kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi komunitas mereka, Ëtëtung juga memajukan kesetaraan gender secara lokal (SDG 5).

Kesimpulan

Contoh-contoh dari Australia, Indonesia, dan Vanuatu ini menunjukkan bahwa musik dan suara memiliki peran yang beragam dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Mulai dari kesehatan dan kesejahteraan hingga aksi iklim, dari meningkatkan kesetaraan sosial hingga melestarikan kehidupan di bawah air, inisiatif budaya yang melibatkan musik dan suara dapat mendukung kemajuan yang berarti menuju SDG PBB. Kasus-kasus lain di seluruh dunia mendukung temuan ini.

Musik dan suara dapat menyampaikan pengetahuan tentang pembangunan berkelanjutan dengan cara yang tidak konvensional, dan dapat mendukung tindakan terhadap SDG. Ketika komunitas lokal, masyarakat, pemerintah, LSM, dan badan-badan internasional seperti UNESCO meningkatkan upaya untuk mencapai SDG pada tahun 2030, kami menyarankan agar para pemangku kepentingan ini lebih jauh mengintegrasikan musik dan suara ke dalam upaya mereka, mendukung inisiatif semacam itu dengan melalui pendanaan dan sumber daya, dan bekerja sama untuk memaksimalkan manfaatnya bagi pembangunan berkelanjutan. Keuntungannya bisa jadi sangat besar. 

🔬🧫🧪🔍🤓👩‍🔬🦠🔭📚

Referensi jurnal

Grant, C., Bartleet, B. L., Barclay, L., Lamont, J., & Sur, S. (2022). Integrating music and sound into efforts to advance the sustainable development goals in the Asia-Pacific: case studies from Indonesia, Vanuatu and Australia. International Journal of Cultural Policy28(4), 499-512. https://doi.org/10.1080/10286632.2021.1971206

Catherine Grant adalah seorang peneliti musik, dosen, dan penulis yang berfokus pada kelestarian dan keberlanjutan budaya di Lembaga Penelitian Seni Kreatif dan Konservatorium Queensland, Universitas Griffith, Australia.

Brydie-Leigh Bartleet adalah spesialis musik komunitas dan Anggota Masa Depan Dewan Riset Australia di Lembaga Penelitian Seni Kreatif dan Konservatorium Queensland, Universitas Griffith, Australia.

Leah Barclay adalah seorang seniman suara, perancang, dan peneliti yang bekerja di Universitas Sunshine Coast, Australia. Dia melakukan proyek-proyek berorientasi sosial di persimpangan antara seni, sains, dan teknologi.

Joseph Lamont adalah seorang produser, komposer, dan dokumenter film asal Australia yang bekerja di bidang pemeliharaan dan revitalisasi budaya di Sumba, Indonesia.

Sandy Sur adalah pendiri dari Pengalaman Budaya Leweton (Leweton Cultural Experience) di Luganville, Vanuatu, dan memimpin proyek-proyek kreatif berbasis komunitas dengan hasil budaya dan lingkungan.