/

Cedera apa yang paling umum terjadi pada netball? Data dari Piala Dunia Netball 2019

Penelitian kami mengungkap data cedera netball yang belum pernah ada sebelumnya.

Netball atau bola jaring, pertama kali dimainkan di Inggris pada tahun 1895, dan terus meningkat popularitasnya di banyak negara. International Netball Federation (INF), sekarang disebut World Netball, menjadi tuan rumah Netball World Cup (NWC), setiap empat tahunan. Kejuaraan dunia internasional ini dimulai di Eastbourne, Inggris, pada tahun 1963. Pada pementasan ke-15th kompetisi Vitality Netball World Cup 2019 (NWC 2019) utama di Liverpool, dimana enam belas tim bertanding. 

Netball adalah permainan fisik yang membutuhkan daya tahan otot, ledakan aktivitas yang intens dan perubahan arah yang tiba-tiba, beberapa lompatan dan pendaratan, serta akselerasi dan deselerasi yang cepat, yang dapat membuat pemain cedera. Sementara netball awalnya dimulai sebagai permainan non-kontak, hal itu berkembang menjadi olahraga yang mempromosikan tingkat fisik antara pemain yang memperebutkan bola, yang meningkatkan kemungkinan cedera. 

Permainan ini utamanya menjadi ketertarikan perempuan tetapi juga dimainkan oleh laki-laki. Sebuah tim netball terdiri dari tujuh pemain yang bertanding melawan tim lawan dalam permainan kontak jarak dekat. Di tingkat internasional, permainan netball berlangsung selama 60 menit, terdiri dari empat kuarter berdurasi 15 menit.Β 

Tim bola jaring nasional Inggris

Apa yang kita ketahui tentang cedera dan penyakit dalam Netball?

Pengawasan cedera dan penyakit selama Pertandingan Olimpiade menunjukkan bahwa 11% dan 7% atlet masing-masing mengalami setidaknya satu cedera atau penyakit, tetapi insidennya sangat bervariasi di antara disiplin dalam olahraga. Saat ini, netball bukan bagian dari kode olahraga Olimpiade, dan netball elit tidak memiliki pengawasan cedera dan penyakit. Dari sedikitnya data yang tersedia pada pemain sub-elit (tingkat provinsi, antar negara bagian, antar distrik, universitas dan klub), cedera pergelangan kaki dan lutut adalah yang paling sering dilaporkan, dengan masalah keseleo pergelangan kaki di semua tingkat kompetisi. Jenis patologi yang paling umum adalah keseleo ligamen, ketegangan otot, dan memar. Pendaratan yang salah dan kontak keras dengan pemain lain adalah mekanisme cedera yang paling sering dilaporkan.

Penyakit dapat menyebabkan penurunan performa olahraga atlet. Ini dapat berkontribusi secara luas pada ketidakhadiran dari pertandingan dan hari-hari pelatihan, yang berpotensi menyebabkan beban yang cukup besar pada tim untuk tetap kompetitif. Mirip dengan kompetisi olahraga internasional lainnya, pemain netball melakukan perjalanan ke berbagai lokasi, menempatkan mereka pada kondisi lingkungan yang berbeda, populasi yang beragam, dan patogen. Mereka juga berbagi kamar dan kamar mandi serta makan di ruang makan yang sama, yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Studi sebelumnya di semua kode olahraga juga menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki risiko tertular penyakit yang jauh lebih tinggi daripada atlet pria.

Meningkatnya ketertarikan terhadap netball sebagai olahraga, dan keinginan tim nasional untuk menjadi lebih kompetitif membuat kompilasi dan analisis mengenai data cedera dan penyakit menjadi semakin penting.

Data pengawasan cedera dan penyakit saat ini sudah tersedia untuk acara netball global paling bergengsi walaupun terbatas. Oleh karena itu, saya dan rekan-rekan saya di Universitas Liverpool bertujuan untuk mendeskripsikan kejadian, prevalensi periode, jenis dan tingkat keparahan cedera dan penyakit pada pemain netball elit selama turnamen internasional Piala Dunia Netball 2019 (NWC 2019) yang dimainkan di Liverpool, Inggris.

Mengungkap data cedera dan penyakit selama Piala Dunia Netball 2019

Enam belas tim netball (ukuran regu dibatasi hingga 12 pemain per tim; n=192) berkompetisi dalam turnamen NWC 2019 yang berlangsung selama 10 hari. Lima tim secara otomatis lolos berdasarkan posisi peringkat tinggi mereka di peringkat dunia INF, dan Inggris lolos sebagai negara tuan rumah. Sepuluh tim yang tersisa lolos melalui turnamen kualifikasi regional, dengan dua tim dipilih dari masing-masing lima wilayah netball internasional: Afrika, Amerika, Asia, Eropa, dan Oseania. Semua pemain setuju untuk dilakukan studi penelitian.

Staf medis turnamen mencatat cedera, penyakit, dan kerugian waktu dari semua pemain. Formulir pengawasan cedera dan penyakit memberikan informasi demografis dasar (negara dan usia). Kami melaporkan hasil dalam kategori cedera dan penyakit mengikuti pedoman Pernyataan Konsensus IOC. Kami kemudian mencatat frekuensi cedera pertandingan untuk kategori utama: bagian tubuh anatomi utama; area tubuh tertentu; jenis dan patologi jaringan; dan tingkat keparahan cedera (0 hari, 1–7 hari, 8–28 hari, >28 hari kerugian waktu).

Kami juga melaporkan jenis kontak dan fase permainan, posisi spesifik permainan dan kelompok posisi gabungan [penembak (GA, GS), lapangan tengah (WA, C, WD), bek (GK, GD)], dan frekuensi cedera per pertandingan.

Terakhir, kami mencatat frekuensi penyakit untuk semua hari turnamen dalam kategori utama berikut: sistem organ utama dan diagnosis penyakit; etiologi penyakit (infeksi vs noninfeksi); dan tingkat keparahan penyakit (β‰₯1 hari kerugian waktu).

Data cedera menunjukan tingginya jumlah cedera pergelangan kaki

Selama turnamen 10 hari, kami mencatat 840 jam pertandingan cedera pemain untuk 192 pemain. 39 pemain mengalami 46 cedera dalam permainan pertandingan, menghitung insiden cedera 54,76/1000 jam pemain dan prevalensi periode cedera 20,31%.

Cedera tungkai bawah (54,35%), khususnya pergelangan kaki (23,91%), adalah yang paling umum, dengan keseleo ligamen pergelangan kaki lateral yang tertinggi (17,39%). Cedera kontak (73,91%) secara signifikan melebihi cedera non-kontak (26,09%).

Cedera terbanyak dialami oleh pemain tengah (26,09%), diikuti oleh penjaga gawang (21,74%), dan bek gawang (17,39%).

Cedera terjadi di hampir 53,33% pertandingan, dan 66,67% tidak mengakibatkan hilangnya waktu/time-loss.

Cedera kehilangan waktu (33,33%) paling sering terjadi pada tungkai bawah (71,43%) dan khususnya pergelangan kaki (35,71%), diikuti oleh cedera lutut dan paha (masing-masing 14,29%). Sebagian besar cedera kehilangan waktu, semuanya dengan tingkat keparahan ringan, disebabkan karena kontak antar pemain (78,57%). Pemain tengah dan bek gawang mengalami cedera yang paling banyak pada kehilangan waktu (masing-masing 28,57%). Hanya dua orang cedera (4,76%) yang mengakibatkan hilangnya waktu lebih dari tujuh hari.

Kami mencatat 1440 hari pemain sakit untuk 192 pemain selama 10 hari turnamen. Secara total, 11 pemain terjangkit 11 penyakit, menghitung insiden penyakit 7,64/1000 hari pemain dan prevalensi periode sakit 5,72%. Penyakit saluran pernapasan, khususnya infeksi saluran pernapasan atas, memberikan kontribusi sebesar 36,36%, diikuti gastroenteritis dan dismenore (masing-masing 18,18%). Penyakit non infeksi (72,73%) lebih banyak ditemukan dibandingkan penyakit infeksi (27,27%). Sebagian besar penyakit tidak menyebabkan hilangnya waktu dari permainan turnamen (90,91%).

Ini adalah studi pertama yang melaporkan cedera dan penyakit selama NWC. Pergelangan kaki paling sering cedera, dan pemain tengah mengalami sebagian besar cedera. Kontak fisik adalah mekanisme utama dari cedera, dan 2/3 dari cedera tidak mengakibatkan kerugian waktu.

Studi pengawasan yang ditargetkan menggunakan metodologi serupa diperlukan untuk mengembangkan strategi pencegahan cedera dan penyakit pada pemain netball elit.

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi jurnal 
Janse van Rensburg, D. C., Bryant, G., Kearney, S., Singh, P., Devos, A., Jansen van Rensburg, A., Schwellnus, M. P., & Botha, T. (2021). The epidemiology of injury and illness at the Vitality Netball World Cup 2019: An observational study. The Physician and Sportsmedicine, 50(4), 359–368. https://doi.org/10.1080/00913847.2021.1932632

Christa Janse van Rensburg adalah Profesor Kedokteran Olahraga dan Latihan di Universitas Pretoria. Beliau adalah Anggota Pendiri Perguruan Tinggi Kedokteran Olahraga dan Latihan di Afrika Selatan, Mantan Presiden Asosiasi Kedokteran Olahraga Afrika Selatan, Anggota dari Perguruan Tinggi Kedokteran Olahraga Amerika, Anggota Komite Netball Dunia, Anggota Kelompok Konsensus Metodologi Pengawasan Cedera dan Penyakit dari FIFA, dan Kelompok Penasihat Ilmu Klasifikasi Federasi Tenis Internasional. Beliau telah menerbitkan lebih dari 100 publikasi yang telah ditelaah oleh rekan sejawat. Gelar DMed (PhD) yang diraihnya membuktikan bahwa olahraga bermanfaat bagi pasien dengan rheumatoid arthritis, sementara penelitiannya saat ini berfokus pada efek perjalanan pada atlet, cedera, dan penyakit dalam berbagai cabang olahraga. Beliau juga merupakan dokter olahraga untuk berbagai tim olahraga di Olimpiade, Pesta Olahraga Persemakmuran, dan Pesta Olahraga Afrika.