//

Meat The Future: Makanan masa depan/baru dalam pola makan berkelanjutan

Penelitian saya di Universitas Helsinki menjabarkan opsi masa depan untuk 'meat-igasi' perubahan iklim.

Jika perubahan signifikan dalam produksi dan konsumsi tidak segera dibuat, dampak perubahan iklim pada sistem pangan dan diet/pola makan kita akan menjadi signifikan, dan secara tidak proporsional hanya akan mempengaruhi negara-negara miskin dibandingkan negara-negara kaya. Banyak penelitian dan diskusi publik baru-baru ini telah menyoroti perlunya perubahan pola makan sebagai sarana untuk mitigasi perubahan iklim di masa depan. Pangan sumber protein hewani, terutama daging sapi dan pakan ternak, terlibat sebagai pendorong utama dampak iklim dalam sistem pangan. Selain itu, perubahan iklim telah memperparah tantangan sistem pangan global untuk menyediakan nutrisi yang cukup secara berkelanjutan, memenuhi permintaan yang semakin meningkat akan protein yang lebih baik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita memenuhi permintaan daging dengan dampak lingkungan yang lebih kecil dan sumber protein berkualitas lebih tinggi?

Makanan baru/masa depan sebagai pilihan protein alternatif

Novel and future foods (NFF)/Makanan baru dan masa depan memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan dari pola makan…[sebagai] alternatif bergizi untuk makanan sumber protein hewani sambil memenuhi berbagai tujuan keberlanjutan.

RACHEL MAZAC DALAM MAKANAN ALAM (Nat Food 3, 286–293 (2022))

Kemajuan terbaru dalam teknologi produksi pangan telah mengembangkan metode kultur sel untuk menumbuhkan makanan sumber protein hewani sebagai pengganti langsung produk ternak konvensional, yang mana terbukti memiliki dampak iklim yang lebih tinggi. Selain itu, opsi makanan berbasis jamur dan nabati untuk pengganti protein telah meningkat popularitasnya dan skala produksinya, dengan opsi yang sudah dikenal seperti Beyond Meat dan Quorn. Bahkan konsumsi bahan makanan non-tradisional dalam pola makan negara 'Barat' seperti serangga, rumput laut, dan rumput laut lainnya semakin diminati sebagai makanan prospektif untuk memitigasi perubahan iklim melalui perubahan pola makan manusia.

Metode kultur sel memanen makanan sumber protein hewani sebagai pengganti langsung produk ternak konvensional.
Sumber: Niko Räty

Makanan baru — daging, telur, susu, tanaman, ganggang, bakteri, dan jamur yang dibudidayakan — adalah makanan yang dihasilkan dari produksi teknologi baru, dan yang mungkin berada di bawah kerangka kerja regulasi baru seperti teknologi kultur sel. Makanan masa depan adalah makanan yang kapasitas produksi dan konsumsinya dalam pola makan negara Barat dapat berpotensi untuk ditingkatkan, termasuk serangga, rumput laut, dan spirulina. Selain itu, makanan baru/masa depan ini sedang dikembangkan dan ada peningkatan minat konsumsi karena munculnya masalah mitigasi perubahan iklim. Beberapa makanan mungkin tumpang tindih dalam kategori baru/masa depan seperti kerang (Mytilus spp.) atau chlorella yang (Chlorella vulgaris), diproduksi dengan teknologi baru.

Pola makan yang optimal

Penelitian saya dan kolega di Universitas Helsinki berfokus pada keberlanjutan makanan tertentu dan peran NFF dalam pola makan di masa depan.

Kami menerapkan pendekatan pengoptimalan diet, metode umum untuk memodelkan opsi diet yang lebih berkelanjutan, untuk memahami bagaimana NFF dapat berperan dalam diet di masa mendatang. Meminimalkan dampak lingkungan dalam potensi pemanasan global (yaitu, emisi karbon), penggunaan air, dan penggunaan lahan, kami menemukan bahwa pola makan dengan makanan baru/masa depan dan pola makan vegan dengan alternatif nabati kaya protein, seperti tahu, polong-polongan, dan kacang-kacangan, dapat memperoleh dampak lingkungan hingga 80% lebih sedikit daripada pola makan rata-rata orang Eropa (omnivora) saat ini.

Optimalisasi tersebut memilih berbagai makanan baru/masa depan, termasuk susu kultur, protein mikroba (kultur dari sel bakteri), tepung serangga, dan rumput laut sebagai pengganti makanan sumber protein hewani. Namun, sumber protein yang paling dipilih untuk menggantikan makanan sumber protein hewani dalam pola makan saat ini adalah pengganti susu nabati (misalnya, susu kedelai dan almond) karena dampaknya yang rendah dan profil nutrisi yang diperkaya dengan kalsium, vitamin B12/B6, dan asam amino esensial.

Berbagai jenis makanan baru dan masa depan yang berfungsi sebagai pengganti makanan sumber protein hewani

Selain itu, kami menemukan bahwa bahkan dengan pengurangan 80% makanan sumber protein hewani dari pola makan saat ini (tidak sepenuhnya menghilangkan semua makanan ASF seperti dalam pola makan vegan yang ketat), semua dampak lingkungan dapat dikurangi hingga lebih dari 70%. Pola makan dengan kompromi terbaik dari dampak lingkungan yang rendah sambil tetap memenuhi semua kebutuhan nutrisi mengandung sejumlah kecil makanan sumber protein hewani (misalnya susu dan moluska) dengan kandungan makanan baru/masa depan tertentu — sebagian besar tepung serangga dan susu budidaya — dan lebih banyak susu nabati.

Jadi bagaimana sekarang?

Meskipun ada banyak potensi untuk NFF dalam model diet/pola makan, masih ada jalan panjang dalam hal penerimaan budaya, aksesibilitas ekonomi/harga, dan pengembangan profil aroma, tekstur, dan rasa untuk diadopsi sepenuhnya ke dalam diet pada skala besar. Dengan menyertakan NFF dalam diet masa depan, kita mungkin dapat memenuhi kebutuhan lebih banyak orang dengan alternatif protein bergizi dan dampak lingkungan yang lebih sedikit.

Mengingat dampak lingkungan yang negatif dan ketegangan produksi pangan yang ekstrem telah berada di ambang batas-batas planet kita, pertanian dan sistem pangan perlu melakukan perubahan besar-besaran untuk perbaikan. Perubahan perlu dilakukan, tidak hanya pada pola makan tetapi pada keseluruhan sistem. Meskipun menambahkan makanan baru/masa depan ke dalam diet Anda mungkin merupakan pilihan yang sehat dan tidak terlalu berdampak pada lingkungan, itu bukanlah solusi obat mujarab. Tidak bisa hanya satu solusi untuk mengatasi krisis iklim yang ada saat ini.

Yang kita butuhkan adalah perubahan sistemik. Keberlanjutan di masa depan akan memerlukan perubahan dalam dua cara utama: 'lebih sedikit dan lebih baik', dengan menggabungkan transisi 'degrowth sistemik'. Pertama, sistem seperti itu tidak hanya ditandai dengan lebih sedikit (misalnya, penurunan produksi pertanian, lebih sedikit konsumsi berlebihan, lebih sedikit kalori yang terbuang), tetapi juga akan menjadi sistem makanan dengan 'metabolisme' yang sama sekali berbeda. Kedua, pertumbuhan sistem pangan masa depan akan mencakup bentuk dan penggunaan makanan yang sama sekali berbeda, merubah etika non-manusia sebagai makanan, dan hubungan pola konsumsi manusia melalui pertimbangan temporo-spasial proksimal dan jauh dari dunia non-manusia.

Rachel Mazac adalah seorang peneliti sistem pangan berkelanjutan dengan fokus khusus pada pola makan berkelanjutan, protein alternatif, dan pendekatan ekosistem kritis. Sebagai seorang peneliti tingkat doktoral di Universitas Helsinki, Mazac bekerja di titik temu antara keberlanjutan sistem global, agroekologi, dan pangan. Penelitian Mazac saat ini berfokus pada pergeseran pola makan di masa depan, menyelidiki potensi protein alternatif (misalnya, sistem produksi makanan baru, kacang-kacangan, makanan dengan nilai alam tinggi) untuk mengurangi dampak pola makan secara keseluruhan terhadap sistem lingkungan dan sosial-budaya. Makanan sangat mempengaruhi kita semua dan kita semua perlu memahami cara kita berinteraksi dan berdampak pada dunia di sekitar kita melalui makanan.