//

Digitalisasi dan perubahan dalam industri otomotif Jerman

Bagaimana pabrikan otomotif papan atas Jerman dapat beradaptasi dan bertahan dalam perubahan zaman?

Industri otomotif Jerman telah diguncang hingga ke intinya oleh efek gabungan dari dua kekuatan yang mengganggu-dekarbonisasi dan digitalisasi-yang secara bersamaan berdampak pada industri dan memicu perubahan besar. Seiring dengan munculnya model bisnis dan kemitraan baru, bagaimana perusahaan-perusahaan otomotif besar beradaptasi dan bertahan?

Industri otomotif Jerman

Selama lebih dari satu abad, industri otomotif Jerman telah menetapkan standar internasional dalam pembuatan mobil. Itu adalah era di mana mobil Jerman menjadi lambang pembuatan berkualitas tinggi di seluruh dunia. Volkswagen, Mercedes-Benz, BMW, Porsche, dan Audi dikenal dengan mesin pembakaran dan powertrain mereka yang disetel dengan halus. Mobil Jerman kadang-kadang dianggap sebagai "mobil" yang luar biasa. Era ini sekarang akan segera berakhir. 

Industri otomotif Jerman terdiri dari produsen peralatan asli (OEM) dan jaringan pemasok tiga tingkat. Menurut Statista, total ada 933 perusahaan yang aktif di industri otomotif Jerman pada 2021; OEM yang berbasis di Jerman seperti, Volkswagen, Daimler, dan BMW termasuk di antara 10 produsen mobil teratas di dunia. Pada 2010-an, perusahaan mencapai rekor penjualan satu persatu. Namun, tahun 2020-an akan ditandai dengan perubahan struktural jangka panjang.

Dekarbonisasi dan digitalisasi

Dampak dari dekarbonisasi dan digitalisasi menimbulkan perubahan besar dalam industri ini. Dekarbonisasi sektor transportasi dan peralihan ke sistem penggerak dan bahan bakar alternatif terjadi secara paralel dengan digitalisasi yang semakin maju, yang berdampak pada produksi kendaraan dan penawaran mobilitas. 

Pada tahun 2016, perusahaan Daimler membuat akronim, CASE - konektivitas, pengemudian otonom, layanan bersama, dan mobilitas listrik - untuk mengatasi tren teknologi dan pasar yang dihadapi industri otomotif. Digitalisasi sering kali dipandang sebagai pemicu "megatren" ini, yang masing-masing berpotensi menghancurkan model bisnis yang ada (Gambar 1) dan menjungkirbalikkan seluruh industri. 

Digitalisasi berakibat pada bagaimana industri otomotif berfungsi, terutama di area produksi. “Pabrik pintar” menggabungkan berbagai teknologi yang disebut “Industri 4.0”, seperti robot yang terhubung ke Internet, dan penggunaan komputer berperforma tinggi untuk pembelajaran mesin dan analisis data. 

Melihat ke masa depan, penerapan Industrial Internet of Things (IIoT) akan diterapkan pada jaringan fasilitas produksi di seluruh dunia. Perangkat IIoT akan mengatur aliran data antar pabrik dan mengontrol semua logistik untuk suku cadang, pengadaan, produksi, dan distribusi. Pabrik kembar digital juga akan menggunakan perangkat IIoT untuk memantau dan mendukung produksi secara real-time. Siemens dan Daimler bekerja sama dalam pengembangan pabrik model yang sepenuhnya didigitalkan untuk pabrik Mercedes di Berlin-Marienfelde, yang akan menjadi pelopor bagi 30 pabrik Mercedes di seluruh dunia.

Chart showing external environmental changes in the German automotive industry
Gambar 1. Perubahan lingkungan eksternal di industri otomotif Jerman.
Sumber Kredit: International Journal on Advances in Intelligent Systems

Sebuah era baru dalam pengembangan otomotif

Perubahan ini memaksa sektor otomotif andalan Jerman untuk menginvestasikan sumber daya yang cukup besar dalam memperoleh pengetahuan baru melalui penelitian dan pengembangan, dan untuk bermitra dengan pemain teknologi besar. Penelitian terbaru telah meneliti bagaimana industri mengubah strategi sumbernya sesuai dengan itu. Nvidia dan Qualcomm mendominasi penyediaan chip untuk komputer on-board pusat, dan semakin banyak menawarkan perangkat lunak/software untuk penggerak otomatis (Gambar 2).

Ada sejumlah inisiatif untuk membuat platform lintas industri yang melibatkan para pemain teknologi besar. 

Pada 2019, BMW dan Microsoft mendirikan Platform Manufaktur Terbuka berdasarkan cloud Azure. Tujuannya adalah untuk menciptakan industri platform produksi yang mandiri dan terstandarisasi berdasarkan perangkat lunak sumber terbuka. Dengan demikian, pengetahuan, data, teknologi baru, dan segala sesuatu yang mendorong perkembangan inovasi dapat dibagikan dengan lebih mudah. Demikian pula, Volkswagen telah bekerja sama dengan Amazon AWS dan Siemens untuk mengembangkan cloud/penyimpanan awan industri yang akan menghubungkan 122 pabriknya untuk berinvestasi lebih lanjut dalam otomasi pabrik dan menggunakan data teknis dalam jumlah besar. 

Cloud industri ini didasarkan pada teknologi AWS di bidang IIoT, pembelajaran mesin, analisis data, dan layanan komputasi. Solusi ini dikembangkan sebagai platform industri terbuka yang dapat digunakan oleh mitra lain dari industri, logistik, dan penjualan. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan ekosistem industri global yang terus berkembang.

Chip Co-operation Chart
Gambar 2. Kerja sama chip antara pemain teknologi besar dan industri otomotif global untuk komputer on-board pusat. Perusahaan Jerman menggunakan jenis huruf tebal.
Sumber Kredit: Diadaptasi dari handelsblatt.com

Hubungan baru dalam rantai pasokan otomotif juga sedang dijalin. Volkswagen dan Bosch baru-baru ini mengumumkan kemitraan untuk mengembangkan dan meluncurkan fungsi mengemudi yang sangat otomatis di semua kelas kendaraan VW, juga membuatnya tersedia untuk pabrikan lain. Kedua perusahaan mendeklarasikan ini sebagai perubahan paradigma dalam kerja sama antara OEM dan pemasok tingkat-1. Kemitraan ini dipandang sebagai tantangan terhadap keterlibatan perusahaan teknologi AS dalam sistem operasi mobil. Bosch bertujuan untuk menjadi pemasok perangkat lunak kendaraan mandiri aplikasi terkemuka di masa mendatang.

Ringkasnya, mobil telah menjadi produk TI (teknologi informatika) yang kompleks, dengan perusahaan terkemuka kini berspesialisasi dalam program komputer terkait kendaraan dan layanan mobilitas. Perangkat lunak semakin menjadi kriteria diferensiasi utama dalam industri otomotif. Perusahaan otomotif akan membutuhkan mitra, karena kurangnya keahlian dalam pengembangan perangkat lunak untuk mobil yang terhubung, sehingga sumber nilai tambah menjadi sangat penting. 

Industri ini sekarang memasuki serangkaian kemitraan strategis sehubungan dengan "IT Mobil" dan pengemudian otomatis/otonom. Seperti yang baru-baru ini dicatat oleh Wiegand and Brautsch, “Perusahaan yang sudah mapan dihadapkan pada gangguan multidimensi yang diprakarsai oleh para pemimpin teknologi baru.”

"Hal ini akan secara radikal mengubah model bisnis yang ada dengan membangun budaya penggunaan mobil yang baru, berdasarkan jaringan digital baru dan platform operasi. Kesuksesan di masa depan akan lebih bergantung pada kemampuan di bidang fitur produk digital dan konektivitas, daripada mengembangkan dan memproduksi mobil," tambah mereka.

🔬🧫🧪🔍🤓👩‍🔬🦠🔭📚

Referensi jurnal

Felser, K., & Wynn, M. (2020). Digitalization and Evolving IT Sourcing Strategies in the German Automotive Industry. International Journal on Advances in Intelligent Systems, 13(3-4), 212–225. https://eprints.glos.ac.uk/8670/

Kerstin Felser adalah kepala akademik Kampus Dueren di Universitas Ilmu Terapan, Fachhochschule des Mittelstands (FHM), Jerman, dengan fokus pada industri otomotif dan penerbangan. Beliau menyelesaikan studi ekonominya dengan gelar di bidang Administrasi Bisnis di Universitas Ilmu Terapan SRH, Riedlingen, Jerman. Minat keilmuannya meliputi digitalisasi, teknologi digital, transformasi digital, dan kewirausahaan digital serta strategi TI. Dalam konteks ini, ia meraih gelar Doktor dari Universitas Gloucestershire, Inggris. Sebelumnya, Kerstin adalah seorang pilot maskapai penerbangan komersial dan juga memiliki pengalaman di bidang manajemen penerbangan.

Martin Wynn adalah Lektor Kepala di bidang Teknologi Informasi di Fakultas Bisnis, Komputasi dan Ilmu Sosial di Universitas Gloucestershire dan meraih gelar doktoral dari Universitas Nottingham Trent. Beliau diangkat sebagai Rekan Peneliti di Universitas London Timur, dan menghabiskan 20 tahun di industri di perusahaan farmasi Glaxo dan perusahaan minuman HP Bulmer. Minat penelitiannya meliputi digitalisasi, sistem informasi, keberlanjutan, manajemen proyek, dan perencanaan kota. Buku terbarunya, Handbook of Research on Digital Transformation, Industry Use Cases, and the Impact of Disruptive Technologies, yang diterbitkan pada tahun 2022.