//

Penelitian menemukan hubungan antara diabetes tipe 3 dan penyakit Alzheimer pada tingkat sel

Sebuah studi dari Universitas Brigham Young telah menemukan bukti yang mengaitkan penyakit Alzheimer dengan disfungsi metabolik di dalam otak, yang dapat diperburuk oleh pola makan yang tidak sehat.

Sejak Penyakit Alzheimer pertama kali diperkenalkan pada tahun 1906 oleh Dokter Alois Alzheimer, banyak sekali kemajuan yang telah dicapai dalam upaya memahami gangguan ini dan apa yang memicunya. Semakin banyak ilmuwan belajar tentang Alzheimer, semakin dekat mereka untuk menemukan obat atau penyembuhannya. 

Saat ini, para ilmuwan mengetahui bahwa faktor risiko tertentu seperti gangguan jantung, stres, hipertensi, atau genetika menyebabkan perubahan kimiawi otak yang kemudian memicu gejala-gejala Alzheimer, seperti kehilangan ingatan, penurunan kemampuan kognitif, dan pada akhirnya hilangnya fungsi tubuh. Pemerintah menyalurkan miliaran dolar untuk penelitian Alzheimer karena penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kematian dan solusinya sangat dibutuhkan. 

Dalam beberapa bulan terakhir, penelitian baru telah mengemukakan teori baru yang mengejutkan tentang Penyakit Alzheimer. Berikut ini adalah salah satu penelitian yang telah membuktikan adanya hubungan antara diabetes tipe 3 dan Penyakit Alzheimer. 

Sebuah studi oleh Universitas Brigham Young telah menemukan bukti yang mengaitkan penyakit Alzheimer dengan disfungsi metabolik di dalam otak, yang dapat diperburuk oleh pola makan yang tidak sehat. Penelitian ini merupakan salah satu dari serangkaian penelitian serupa yang telah menemukan bukti kuat bahwa Alzheimer diakibatkan oleh 'Diabetes Tipe 3'. Bentuk diabetes ini mengacu pada resistensi insulin pada otak yang terjadi ketika diabetes tipe 2 tidak diobati.

Tim peneliti dari universitas ini melakukan pemeriksaan post-mortem terhadap sekuens RNA dari 204 orang yang telah didiagnosis dengan Penyakit Alzheimer. Tujuannya adalah untuk mempelajari ekspresi gen dalam sel otak selama metabolisme glukosa dan metabolisme ketolitik. 

Selama metabolisme glukosa, otak, seperti halnya semua bagian tubuh, memecah glukosa untuk mendapatkan energi agar dapat melakukan tugasnya. Selama metabolisme ketolitik, otak mengambil energi dari keton, yang merupakan jenis molekul yang terbentuk ketika kadar insulin dalam tubuh rendah dan tubuh membakar banyak lemak. Sebagai contoh, jika seseorang mengikuti 'diet keto', makanan rendah karbohidrat dan tinggi protein yang dikonsumsi mendorong tubuh untuk membakar lemak, alih-alih karbohidrat, dan hal ini melepaskan keton. Keton adalah sumber energi alternatif untuk otak. Otak manusia yang sehat dapat beralih dari glukosa ke keton sebagai sumber energinya.

Namun, analisis sampel dari pasien Alzheimer menunjukkan adanya gangguan metabolisme glukosa yang luas pada sel-sel pendukung otak dan sistem saraf. Namun, gangguan metabolisme ketolitik ditemukan terbatas. Ini berarti bahwa otak penderita Alzheimer tidak dapat memecah glukosa tetapi tidak mengalami masalah dalam memetabolisme keton. Oleh karena itu, otak penderita Alzheimer harus bergantung hanya pada keton untuk mendapatkan energi.

Hal ini juga membuat para peneliti menyimpulkan bahwa mengubah otak dari mesin multi-bahan bakar (glukosa dan keton) menjadi mesin bahan bakar tunggal (hanya keton) akan semakin merusak otak dan membuat Alzheimer semakin parah.

Pola makan kita sebagian besar bertanggung jawab terhadap hal ini. Makanan yang kita konsumsi membanjiri tubuh kita, termasuk otak, dengan glukosa, tetapi tidak cukup keton. Otak Alzheimer, yang tidak dapat memproses glukosa, perlahan-lahan mulai kelaparan karena tidak adanya keton yang cukup. Hal ini pada akhirnya menyebabkan kegagalan fungsi otak. 

Penelitian ini adalah penelitian pertama yang membuktikan bahwa meskipun metabolisme glukosa di otak Alzheimer berhenti, metabolisme ketosis akan terus berlanjut. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menemukan bagaimana keton dapat digunakan untuk mengobati atau menghentikan Penyakit Alzheimer.

Penyakit Alzheimer tidak dapat disembuhkan. Para pengasuh yang merawat orang yang mereka cintai yang didiagnosis dengan Alzheimer akan merasakan pengalaman yang menguras tenaga dan harus menghadapi kesedihan setiap hari. Agar dapat membantu penderita Alzheimer dengan lebih efisien dan demi kesehatan psikologis mereka sendiri, para pengasuh dan anggota keluarga harus mempertimbangkan untuk menjalani terapi, perubahan gaya hidup, dan perawatan lainnya.