/

Infrastruktur rasisme: bagaimana norma orang kulit putih merendahkan orang kulit hitam

Penelitian kami di Universitas Lakehead berfokus pada bagaimana orang dari berbagai ras mengalami konflik dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artikel ini, kami memperdebatkan pengertian “struktur” dan “infrastruktur” dalam menyoroti nuansa rasisme.

Artikel ini ditulis oleh penulis pihak ketiga, yang independen dari The Academic. Artikel ini tidak serta merta mencerminkan pendapat editor atau manajemen dari The Academic, dan semata-mata mencerminkan pendapat penulis artikel.

——

Penelitian kami di Lakehead University berfokus pada bagaimana orang dari berbagai ras mengalami konflik dan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Dalam artikel ini, kami bermaksud memperdebatkan pengertian “struktur” dan “infrastruktur” dalam menyoroti nuansa rasisme. Struktur adalah apa yang kita lihat, dengar dan alami. Infrastruktur adalah ideologi atau ide tersembunyi di balik pengalaman rasisme yang eksplisit. Kami berpendapat bahwa untuk membongkar rasisme sistemik dalam masyarakat kita, upaya pada tingkat struktural harus dilengkapi dengan menantang praktik apa pun yang menempatkan Whiteness/keputihan mereka dan orang kulit putih sebagai satu-satunya standar yang valid. 

Permasalahan: infrastruktur rasisme

Infrastruktur rasisme berfungsi sebagai jaringan gagasan yang menempatkan orang kulit putih sebagai model universal kemanusiaan dan rasionalitas, menghasilkan konseptualisasi orang kulit putih dan Whiteness (yaitu seperangkat standar, praktik, kepercayaan, dan nilai yang secara tradisional diasosiasikan dengan orang kulit putih) sebagai superior. Sebuah contoh utama dari keyakinan ini diilustrasikan dalam puisi nya Rudyard Kipling "Beban Orang Putih", yang mendesak AS untuk menginvasi dan mengambil kendali kolonial Filipina karena itu adalah "beban orang kulit putih" untuk "melayani kebutuhan [mereka] tawanan”.

Pemikiran mementingkan diri sendiri ini terus mempengaruhi interaksi antar manusia. Ini menyajikan praktik orang kulit putih sebagai tujuan dan standar yang harus dibandingkan dengan masyarakat lainnya - atau seluruh dunia, tergantung pada konteksnya, sambil terus-menerus mempertanyakan validitas subjektivitas dan keterampilan kelompok etnosentris lainnya, hanya menilai mereka berdasarkan kedekatannya dengan keputihan mereka.

Dorongan untuk berasimilasi dengan 'keputihan mereka' terlihat jelas dalam sistem persekolahan modern negara Barat. Dibangun oleh orang kulit putih untuk kepentingan orang kulit putih, yang sudah direncanakan tidak mungkin untuk sistem sekolah untuk tidak memperkuat ideologi keunggulan kulit putih.

Selain itu, sistem persekolahan terhubung ke sektor masyarakat lainnya seperti kesehatan, perbankan, legislatif, kepolisian, perusahaan, kebijakan, olahraga, dan pemerintahan. Dengan demikian, ini memberikan blueprint untuk perilaku dan standar yang akan digunakan untuk mengarahkan masyarakat modern. Individu non-kulit putih dapat mengharapkan penghargaan dan peluang dalam masyarakat kulit putih, jika mereka mengikuti blueprint tersebut, menginternalisasi kekerasan yang dihasilkan terhadap identitas etnosentris mereka dan menganut keputihan mereka sebagai norma tanpa mempertanyakan atau bahkan mengidentifikasinya seperti itu.

Ketika orang kulit hitam dan kelompok rasial lainnya secara sistematis menganggap bahwa keputihan mereka adalah referensi unik yang dapat diterima untuk bagaimana bertindak, berpenampilan, atau melakukan aktivitas tertentu dalam masyarakat, dan secara bersamaan meremehkan, membuat stereotip, menghindari, atau merendahkan elemen budaya dan praktik Kulit Hitam, ini adalah pengakuan bahwa mereka telah menginternalisasi dasar pemikiran kolonial kulit putih. Sadar atau tidak, mereka beroperasi berdasarkan keyakinan bahwa kulit putih secara alami lebih unggul dan diinginkan, sedangkan praktik dan karakteristik Blackness/warna hitam dan orang kulit hitam lebih rendah, yang pada akhirnya memposisikan kulit putih sebagai satu-satunya model kemanusiaan.

Pemikiran ini merusak agensi 'Afrika' atau 'Hitam' yang mengungkap kelemahan relatif pemilik budak kulit putih di Afrika yang harus melakukan represi tanpa ampun dan membawa budak pergi ke "Amerika yang jauh sebagai alternatif terbaik kedua". Meski begitu, dan seperti yang dicatat oleh Howard French dalam Born in Blackness: “Orang-orang kulit hitam yang ditawan dan diperdagangkan di São Tomé mengirimkan pesan kepada orang Eropa yang akan menguasai mereka bahwa Anda dapat membawa orang Afrika keluar dari Afrika, tetapi Anda tidak dapat dengan mudah membawa Afrika, dan semua hal yang menandakannya, mulai dari kenangan akan kebebasan, pergi jauh dari Afrika..” Kelicikan warna putih terletak pada intriknya untuk menindas agensi ini.

Anda dapat membawa orang Afrika keluar dari Afrika, tetapi Anda tidak dapat dengan mudah membawa Afrika, dan semua hal yang menandakannya, mulai dari kenangan akan kebebasan, pergi jauh dari Afrika.

Howard French dalam "Born in Blackness" (2021)

Tak perlu dikatakan lagi, bahwa keyakinan meniadakan identitas etnosentris non-kulit putih adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup dalam masyarakat kulit putih, yang dapat mengakibatkan kekerasan yang terinternalisasi. Dalam kerangka ini, di mana individu non-kulit putih tidak hanya menggunakan keputihan mereka untuk menilai “nilai” individu non-kulit putih lainnya, tetapi juga secara eksplisit mendesak mereka untuk menolak identitas etnosentris mereka.

Studi kasus anekdot tentang infrastruktur rasisme

Seorang wanita kulit hitam muda di Winnipeg, Kanada, membagikan kisah ini:

“Saya baru saja menyelesaikan Gelar Sarjana Pekerjaan Sosial di Universitas Manitoba dan mendapat pekerjaan di Child and Family Services (CFS). Saya sangat senang karena saya telah mendengar banyak tentang CFS dan bagaimana mereka melakukan diversifikasi dan menyertakan suara dan pengalaman baru. Tetapi ketika saya masuk untuk orientasi saya, saya ditugaskan ke seorang wanita yang memberikan skenario di hadapan saya sebagai berikut: 'bayangkan empat tungku kompor listrik; dua pembakar pertama adalah yang paling kuat dan mudah dijangkau daripada pembakar belakang yang susah dijangkau. Dua pembakar pertama mewakili budaya dan pengalaman Kanada, dan pembakar belakang mewakili budaya yang Anda bawa dari negara Anda.' Dia menatap saya dan menambahkan: 'tinggalkan pengalaman hidup Anda dari negara Anda di mana mereka seharusnya berada, di pembakar belakang , dan peluklah budaya Kanada.' Saya tidak percaya dan marah, berhenti dari pekerjaan dan mendaftar di program master pada bidang yang berbeda.”

Tinggalkan pengalaman hidup Anda dari negara Anda di mana mereka seharusnya berada, di pembakar belakang , dan peluklah budaya Kanada

Sayangnya, pengalaman wanita kulit hitam ini tidak jarang terjadi, sebagian besar pendatang baru di masyarakat yang didominasi kulit putih menghadapi situasi serupa, yang menyebabkan mereka mempertanyakan kelangsungan multikulturalisme dalam masyarakat yang mengklaim filosofi semacam itu sebagai dasarnya, namun meminggirkan kelompok sosial minoritas.

Bisa dibilang, tekanan yang datang dengan mengasimilasi kulit putih sebagai standar hidup sering diwujudkan dalam fenomena "peralihan kode", di mana beberapa orang kulit hitam menekan perilaku, minat, dan aksen yang melekat saat berada di sekitar orang kulit putih untuk meminimalkan risiko menjadi stereotip atau dinilai secara negatif.

Dalam beberapa kasus, obsesi terhadap warna putih dapat menyebabkan beberapa orang memutihkan kulit mereka: penolakan terhadap warna hitam dan kulit hitam ini, sebuah praktik yang dapat ditelusuri kembali ke kolonialisme dan perbudakan ketika kulit putih atau keturunan kulit putih sering menyiratkan sebagai hak istimewa dalam menyelamatkan kehidupan. Selain itu, setiap perubahan aksen, penyangkalan asal-usul, atau penghormatan sistematis terhadap individu, praktik, atau adat istiadat dari masyarakat kulit putih yang dominan, juga mengungkapkan pola rasisme yang terinternalisasi. 

Realitas peralihan kode menunjukkan bagaimana kelangsungan hidup kelompok minoritas seringkali dikondisikan oleh infrastruktur rasisme dan membuat mereka tidak punya pilihan lain selain 'bekerja sama'. 

Berikut kisah dari seorang pria kulit hitam yang mendasari gagasan ini:

“Saya baru saja tiba di kota [Winnipeg] dan pulang naik bus setelah sulitnya berjalan kesana-kemari mencari pekerjaan. Seorang wanita kulit putih naik bus yang sama dengan saya, dan seorang pria kulit putih yang sudah duduk bertanya bagaimana harinya. Dia menjawab bahwa dia telah bekerja 16 jam hari itu, berpindah dari satu shift ke shift lainnya. Pria itu terkejut dan mempertanyakan mengapa dia bekerja keras seumur hidupnya ketika orang-orang seperti "pria kulit hitam ini" —menunjuk ke arah saya — dapat dengan mudah melakukan pekerjaan seperti itu. Tidak ada yang mengatakan apapun padanya. Ketika saya turun dari bus, wanita itu ikut turun bersama saya dan meminta maaf atas ucapan pria tersebut. Saya mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang perlu dimintai maaf dan bahwa sebenarnya, saya pun tidak keberatan jika saya dapat membebaskannya dari shift kerja Wanita tersebut yang melelahkan. Dia mengatakan bagus sekali, dia lalu mengambil nomor saya dan memberi saya pekerjaan pertama saya.

Pria itu terkejut dan mempertanyakan mengapa dia bekerja keras seumur hidupnya ketika orang-orang seperti "pria kulit hitam ini" —menunjuk ke arah saya — dapat dengan mudah melakukan pekerjaan seperti itu. Tidak ada yang mengatakan apapun padanya.

Dalam masyarakat yang didominasi kulit putih, penjaga gerbang terhadap sumber daya dan peluang seringkali adalah orang kulit putih – atau orang yang telah menormalkan kulit putih sebagai standar. Tidak mengherankan, untuk mengakses sumber daya ini, seseorang sering kali diharuskan untuk "memainkan sendiri" dikte kulit putih dan dinamika antagonisnya, sehingga menginternalisasi narasi yang membahayakan dan merendahkan terhadap orang lain yang dirasialisasi. 

Benjamin Maiangwa adalah Asisten Profesor di departemen Ilmu Politik di Universitas Lakehead. Penelitian Maiangwa berfokus secara luas pada persinggungan antara politik, budaya, dan masyarakat. Publikasi terbarunya menggunakan metode bercerita, penelitian aksi, dan etnografi kritis untuk mengeksplorasi gagasan tentang kepemilikan yang diperebutkan, mobilitas, dan bagaimana orang mengalami konflik dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

Christiane Ndedi Essombe memegang gelar Magister Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Montreal. Dia telah bekerja dengan berbagai populasi yang terpinggirkan, seperti orang-orang dengan albinisme di Tanzania, orang-orang yang bermigrasi di perbatasan AS / Meksiko, para penyintas konflik bersenjata Kolombia, dan para pengungsi yang meminta suaka di Montreal. Proyek-proyeknya saat ini berfokus pada interogasi kekerasan rasial dalam konteks Afrika dan hubungannya dengan kolonialisme yang terinternalisasi pada orang-orang keturunan Afrika.