//

Inklusi digital untuk populasi etnis, lanjut usia, dan penyandang disabilitas adalah kunci untuk inklusi sosial

Bagaimana kita bisa dengan lebih baik memasukkan populasi yang rentan dalam domain/ranah digital dan lebih memahami kekhususan budaya dan sosial mereka?

Penelitian saya di Universitas Leicester mengeksplorasi faktor-faktor yang menentukan inklusi digital pada populasi rentan dan peran inklusi digital dalam inklusi sosial populasi tersebut. Studi yang akan saya bahas dalam artikel ini dilakukan di Inggris dan melibatkan kelompok fokus dengan tiga kategori populasi rentan: etnis minoritas, orang tua, dan penyandang disabilitas. 

Mekanisme interseksionalitas dalam domain digital

Penelitian saya telah menemukan bahwa terlepas dari keragaman kebiasaan digital β€” misalnya, spektrum mulai dari penggunaan yang berat, hingga stigma yang dirasakan sendiri terhadap teknologi bantuan oleh penyandang disabilitas β€” sikap orang-orang yang rentan tersebut selaras pada seluruh struktur dan kerangka budaya yang serupa, yang mendorong ketidaksetaraan yang terkait dalam masyarakat. 

Ini memperluas gagasan interseksionalitas/titik temu β€” sebuah istilah yang diciptakan pada tahun 1989, yang berfokus pada sistem kekuasaan dan penindasan yang saling terkait dan bagaimana sistem tersebut berdampak pada anggota masyarakat yang paling terpinggirkan.

Lebih khusus lagi, studi ini menyoroti beberapa mekanisme interseksionalitas dalam domain digital dan melaporkan bahwa posisi populasi rentan dalam domain digital melampaui demografi mereka dan didorong oleh preferensi individu, keadaan hidup (terutama perubahan hidup dan periode transisi), dan stigma sosial.

Temuan ini menunjukkan bahwa untuk etnis minoritas dan orang tua, ketika demografi seperti kebangsaan dan usia biasanya dirujuk dalam diskusi tentang inklusi digital, mereka adalah kekuatan dari budaya dan gaya hidup mapan yang dengan sendirinya membentuk inklusi digital etnis minoritas dan orang tua. 

person standing next to someone in a wheelchair
Sumber: Unsplash / Josh Appel

Mengenai penyandang disabilitas, stigma sosial yang berasal dari disabilitas yang dialami orang-orang ini (dan bukan aspek medis dari disabilitas mereka) adalah yang menentukan posisi dan tingkat inklusi digital mereka.

Kesimpulan dan implikasi praktis

Temuan penelitian saya menunjukkan bahwa kategori populasi dan jenis kerentanan yang tampaknya berbeda, yang mana agak mengejutkan, dibangun oleh struktur dan kerangka kerja masyarakat terkait budaya dan stigma yang sama atau sangat mirip. Struktur dan kerangka kerja ini kemudian mendorong ketidaksetaraan dalam masyarakat dan dalam ranah digital.

Temuan penelitian menunjukkan perlunya peneliti dan praktisi untuk lebih memahami kekhususan kerentanan sosial dan budaya dalam domain digital.

Pemahaman yang lebih baik tentang kekhususan tersebut dapat membantu pemerintah dan badan lain yang berupaya membangun inklusi digital untuk mengurangi fokus pada demografi demi pendekatan kualitatif yang lebih bernuansa dan holistik. Hal ini penting, karena pedoman sebelumnya di seluruh Inggris Raya diterbitkan dalam Strategi Inklusi Digital Pemerintah Inggris terakhir yang menargetkan kelompok demografis tertentu, dengan proyek untuk membantu orang mendapatkan manfaat dari internet dan teknologi digital lainnya.

Secara keseluruhan, temuan-temuan ini dapat membantu para pelaku penelitian, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk:

  1. Mengukur atau membongkar tingkat keparahan dan dampak ketidaksetaraan digital dan/atau diskriminasi terhadap orang-orang yang dianggap rentan dalam domain sosial; 
  2. Memutuskan tindakan multi-arah yang akan menangani berbagai bidang dan sektor diskriminasi terhadap orang-orang rentan di dunia digital secara sekaligus dan untuk lebih dari satu kategori atau kelompok populasi; 
  3. Memberikan tanggapan awal terhadap masalah kebijakan yang menunjukkan bahwa bentuk-bentuk diskriminasi berganda dan titik-temu tidak dianut oleh hukum neoliberal yang agak dominan saat ini dan kebijakan pemerintah yang berlaku untuk masyarakat luas, dan juga di ranah digital

Rekomendasi awal

Temuan penelitian ini mendorong kami untuk menguji coba pengembangan ruang seperti 'laboratorium sosial', tempat orang-orang rentan bersama pemangku kepentingan kebijakan, industri, dan sektor ketiga bekerja sama untuk menyepakati solusi kebijakan holistik untuk inklusi digital orang-orang rentan, termasuk solusi yang akan melampaui demografis setiap populasi yang rentan. 

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi jurnal

Tsatsou, P. (2021). Vulnerable people’s digital inclusion: Intersectionality patterns and associated lessons. Information, Communication & Society, 25(10), 1475–1494. https://doi.org/10.1080/1369118x.2021.1873402

Panayiota Tsatsou adalah seorang lektor kepala di Sekolah Media, Komunikasi dan Sosiologi di Universitas Leicester. Karyanya dalam penelitian media digital dan studi internet membahas fenomena tentang inklusi digital dan eksklusi orang-orang yang rentan, penelitian digital/internet, media digital dan aktivisme sipil, anak-anak dan internet, gender dan internet, serta kebijakan dan regulasi digital.

Panayiota telah menerbitkan banyak publikasi tentang media digital dan peran dari masyarakat biasa, populasi rentan, dan peneliti sebagai pelaku media digital. Karyanya bertujuan untuk berkontribusi pada solusi inovatif dan berbasis bukti untuk masalah yang muncul dalam hubungan masyarakat dengan media digital. Dia telah mengembangkan kolaborasi penelitian di Inggris dan internasional dan telah mempresentasikan karyanya dalam acara-acara yang beragam.