//

Mendobrak batasan: Integrasi strategis teknologi dan SETI untuk masa depan yang berkelanjutan

Sistem dan dukungan apa yang dibutuhkan oleh para pendidik untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pendidikan secara efektif? Bagaimana teknologi dapat diintegrasikan secara mulus dengan Kerangka Kerja SETI?

Teknologi merupakan hal yang lumrah dalam semua aspek pengajaran dan pembelajaran. Agar teknologi dapat digunakan secara efektif, pertimbangan yang cermat tentang bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan perlu dilakukan. Masalah yang sering terjadi adalah para pendidik diberikan teknologi dengan keyakinan bahwa hanya itulah yang diperlukan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara efektif dalam pendidikan.

Tautan ke Ringkasan Artikel Video

Kerangka kerja dalam pendidikan, khususnya yang terkait dengan integrasi teknologi, berfungsi sebagai panduan terstruktur yang membantu para pendidik dan administrator untuk memahami dan mengimplementasikan teknologi secara lebih efektif. Kerangka kerja ini bukan hanya model teoritis; mereka adalah alat praktis yang menawarkan cara untuk mengevaluasi dan merencanakan penggunaan teknologi di kelas. Kerangka kerja ini menyediakan lensa yang dapat digunakan oleh pendidik untuk menilai keselarasan teknologi dengan tujuan pedagogis dan persyaratan konten. Hal ini memastikan bahwa teknologi tidak hanya sebagai tambahan, tetapi merupakan bagian integral dari pengalaman pendidikan, yang disesuaikan dengan kebutuhan guru dan siswa.

Kerangka kerja integrasi

Dalam mengejar penggunaan teknologi yang efektif dalam pendidikan, dua kerangka kerja yang signifikan telah muncul: kerangka kerja Teknologi, Pedagogi, Pengetahuan Konten (TPACK), yang dikembangkan oleh Mishra & Koehler pada tahun 2006, dan model Substitusi, Augmentasi, Modifikasi, dan Redefinisi (SAMR), yang diperkenalkan oleh Puentedura pada tahun 2009. TPACK menekankan pada perpaduan antara konten, pedagogi, dan teknologi, yang menyoroti pengetahuan yang diperlukan yang harus digabungkan oleh para pendidik. Sebaliknya, kerangka kerja SAMR mendorong para pendidik untuk mengevaluasi apakah teknologi meningkatkan pembelajaran atau hanya menggantikan metode tradisional.

Meskipun bermanfaat, kerangka kerja ini telah menghadapi kritik karena tidak sepenuhnya menangani konteks pendidikan yang beragam dan berbagai faktor yang mempengaruhi efektivitas teknologi dalam pengajaran dan pembelajaran. Kesenjangan ini telah mengarah pada pengembangan kerangka kerja Integrasi Teknologi Sosial-Ekologi (SETI) oleh Crompton pada tahun 2023, yang bertujuan untuk memberikan pendekatan yang lebih kontekstual terhadap integrasi teknologi dalam lingkungan pendidikan.

Agar para pendidik dapat mengintegrasikan teknologi secara efektif, mereka membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Kerangka kerja SETI menyoroti faktor sosial dan ekologi yang perlu dipertimbangkan, seperti pelatihan, dukungan teknologi, dan kebijakan. Kerangka kerja ini juga mengakui kepercayaan individu dan norma-norma teknologi sosial-budaya nasional.

Helen Crompton

Kerangka kerja SETI

Kerangka kerja SETI, yang digambarkan pada Gambar 1, adalah versi pengembangan dari model Crompton tahun 2017. Kerangka kerja ini menawarkan metode yang komprehensif untuk mengintegrasikan teknologi dalam lingkungan pendidikan. Kerangka kerja ini menggarisbawahi sistem sosio-ekologi yang berdampak pada pendidik, dengan mengenali interaksi yang kompleks dari berbagai elemen. Kerangka kerja ini disusun di sekitar lingkaran konsentris, yang masing-masing mewakili sistem yang berbeda yang memengaruhi integrasi teknologi.

What systems and supports do educators need to effectively integrate technology into education? How can technology be seamlessly integrated with the SETI framework?
Gambar 1. Kerangka kerja SETI
Kredit. TechTrends

Inti dari kerangka kerja ini adalah pendidik, bersama dengan keyakinan pribadi dan budaya keluarga mereka. Lingkaran pusat ini menggarisbawahi pengaruh penting dari perspektif individu dalam penggunaan teknologi. Di sekelilingnya, sistem mikro mencakup lingkungan sekitar sekolah, dengan fokus pada aspek-aspek seperti akses teknologi, pelatihan, dan dukungan. Meluas lebih jauh, eksosistem mencakup konteks yang lebih luas dari distrik sekolah. Hal ini mencakup pertimbangan kebijakan dan pendanaan yang didedikasikan untuk integrasi teknologi. Lingkaran yang paling luas, yaitu makrosistem, berkaitan dengan norma budaya nasional, standar pendidikan, dan konektivitas internet, yang mencerminkan pengaruh masyarakat yang lebih luas terhadap penggunaan teknologi dalam pendidikan.

Kerangka kerja Integrasi Teknologi Sosial-Ekologi (SETI) diakui sebagai alat yang penting untuk menganalisis lingkungan sosio-ekologi para pendidik. Kerangka kerja ini mendorong pandangan yang komprehensif, mendorong semua pihak dalam pendidikan untuk mempertimbangkan berbagai elemen di luar teknologi itu sendiri, seperti pelatihan, dukungan, dan norma-norma budaya. Kerangka kerja ini menggarisbawahi konsep bahwa integrasi teknologi yang efektif dalam pendidikan adalah upaya kolaboratif. Hal ini membutuhkan lebih dari sekadar akuisisi teknologi; ini melibatkan upaya bersama dalam infrastruktur dan sistem pendukung. Kerangka kerja SETI menunjukkan tanggung jawab kolektif, yang melampaui pendidik individu untuk mencakup komunitas pendidikan yang lebih luas.

Para pendidik dan pemimpin di bidang pendidikan disarankan untuk menggunakan model SETI sebagai sarana untuk meneliti aspek sosio-ekologis dari sistem mereka. Pendekatan ini mendorong evaluasi ulang tentang bagaimana integrasi teknologi dipandang, dengan menekankan pentingnya berbagai faktor yang lebih luas seperti mekanisme dukungan, peluang pelatihan, dan kerangka kerja kebijakan. Berbagai faktor yang termasuk dalam kerangka kerja ini, seperti kebijakan, pelatihan, dan standar, berfungsi untuk menyoroti banyak area penting yang perlu dipertimbangkan. Namun, ini bukanlah daftar yang lengkap, dan setiap lembaga mungkin ingin menambahkan kebutuhan tambahan yang harus dipertimbangkan, terutama yang terkait langsung dengan konteks lembaganya.

Bagi para pendidik, SETI memberikan pengingat tentang apa yang harus ada agar mereka dapat mengintegrasikan teknologi dengan baik. Seorang pendidik dapat menggunakan kerangka kerja ini untuk meminta dukungan yang mungkin belum tersedia, seperti pelatihan, dukungan teknologi, dan bahkan kebijakan. Selain itu, SETI juga berfungsi sebagai alat introspeksi bagi para pendidik. Kerangka kerja ini mengajak mereka untuk merefleksikan persepsi mereka terhadap teknologi dan memastikan bahwa mereka mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik pengajaran mereka.

Sementara sistem mikro dan eksosistem digambarkan sebagai sekolah dan distrik, sekolah dapat berupa universitas, dan sistem yang lebih besar atau area di sekitar universitas. Lembaga pendidikan di semua tingkatan dapat menggunakan kerangka kerja ini, begitu juga dengan lingkungan pembelajaran orang dewasa.

Kesimpulan

Kerangka kerja SETI bertujuan untuk memajukan integrasi teknologi dalam pendidikan. Kerangka kerja ini melengkapi kerangka kerja yang sudah ada dengan memberikan perspektif sosio-ekologis, yang mengakui keterkaitan berbagai faktor yang mempengaruhi penggunaan teknologi. Sifat komprehensif dari SETI mendorong para pemimpin pendidikan dan pendidik untuk mempertimbangkan tidak hanya aspek teknologi tetapi juga konteks sosial-budaya dan ekologi yang lebih luas untuk memastikan integrasi teknologi yang efektif.

🔬🧫🧪🔍🤓👩‍🔬🦠🔭📚

Referensi jurnal

Crompton, H., Chigona, A., & Burke, D. (2023). Teacher Resilience During COVID-19: Comparing Teachers’ Shift to Online Learning in South Africa and the United States. TechTrends, 1-14. https://doi.org/10.1007/s11528-022-00826-6

Dr. Helen Crompton adalah Direktur Eksekutif dari Lembaga Penelitian untuk Inovasi Digital dalam Pembelajaran (RIDIL) di ODUGlobal dan Profesor Teknologi Instruksional di Universitas Old Dominion. Beliau telah menerbitkan lebih dari 150 manuskrip tentang teknologi pendidikan dan dikenal luas atas kontribusinya yang luar biasa, dan masuk dalam daftar 2% Ilmuwan Terbaik di Dunia versi Stanford. Keahlian Dr. Crompton tidak hanya di bidang akademis, tetapi juga dalam praktik, karena beliau sering bekerja sama dengan pemerintah, dan organisasi bilateral dan multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia, dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk mendorong perubahan yang berarti di bidang teknologi pendidikan secara global.

Dr. Diane Burke adalah seorang Rekan Peneliti Senior di Lembaga Penelitian untuk Inovasi Digital dalam Pembelajaran (RIDIL) ODU Global, yang berlokasi di Universitas Old Dominion. Dengan gelar Ph.D. dari Universitas Colorado dan 40 tahun pengalaman di bidang pendidikan, termasuk sebagai Profesor Emerita di Perguruan Tinggi Keuka, NY, ia membawa pengetahuan yang luas dalam penelitiannya.