midjourneydp_school_children_Informational_media_overload_Framework_f_c9f754ff-5c9d-4050-8f3f-d9523181a87f
midjourneydp_school_children_Informational_media_overload_Framework_f_c9f754ff-5c9d-4050-8f3f-d9523181a87f
//

Membentuk kembali media informasi yang berlebihan dengan kerangka kerja pendidikan

Bagaimana kerangka kerja pendidikan dalam kurikulum sekolah dapat mengatasi kelebihan media informasi?

Internet dan media sosial memainkan peran penting dalam cara generasi muda saat ini mengakses informasi. Banyak dari Generasi Z yang menghabiskan banyak waktu untuk online, mengandalkan sumber-sumber seperti media sosial, video YouTube, dan berbagai platform digital untuk mendapatkan informasi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan ini sering kali mengakibatkan kesulitan dalam membedakan antara sumber dan informasi yang memiliki reputasi baik dan tidak dapat dipercaya, yang mengarah pada informasi yang salah dan berita palsu. Meluasnya penyebaran informasi yang menyesatkan ini mengkhawatirkan karena dapat menghambat partisipasi dalam proses demokrasi.

Mengintegrasikan media dan teknologi ke dalam kelas telah meningkatkan keterlibatan pembelajaran, menumbuhkan kreativitas, dan peluang profesional di masa depan. Namun, ada juga tantangan yang dihadapi, termasuk kesulitan pengajar dalam beradaptasi dengan lingkungan digital dan kekhawatiran tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan Literasi Media Kritis (CML) secara efektif ke dalam pengajaran bahasa. Karena tidak adanya kerangka kerja yang terintegrasi, banyak pendidik merasa khawatir untuk memasukkan literasi media kritis ke dalam program Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Hal ini dapat mengakibatkan siswa tidak memiliki keterampilan literasi media kritis yang diperlukan untuk partisipasi aktif dalam keterlibatan demokratis."

Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Journal of Education Media International, mengusulkan kerangka kerja baru untuk mengintegrasikan CML ke dalam pengajaran EFL untuk mengatasi masalah ini. Kerangka kerja ini mencakup sumber daya pembelajaran, pemilihan media, dan praktik pengajaran, dengan tujuan untuk membantu guru EFL dalam mengajar CML secara efektif. Hal ini, pada gilirannya, memberdayakan siswa untuk menavigasi kompleksitas media dan informasi dalam masyarakat yang demokratis.

Kredit: Midjourney

Pengajaran literasi media kritis dalam konteks Asia

Karena pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing lazim di banyak negara Asia, penelitian ini dilakukan dalam konteks Asia, khususnya Indonesia, di mana Literasi Media Kritis (Critical Media Literacy/CML) belum dimasukkan ke dalam kurikulum nasional. Pendidikan CML telah mendapatkan popularitas di negara-negara Asia, yang mengakui pentingnya keterampilan CML. Di Korea Selatan, misalnya, upaya telah dilakukan untuk memasukkan literasi media ke dalam kurikulum untuk membantu siswa dalam memahami dan menavigasi domain digital. Namun, masih ada kekhawatiran mengenai penyebaran informasi yang salah dan dampaknya terhadap masyarakat. Jepang, dengan penduduknya yang melek digital, juga telah mengakui perlunya literasi media dan memulai inisiatif untuk meningkatkan literasi media di lembaga pendidikan. Seperti banyak negara lain, India dan Vietnam sedang berjuang dengan masalah yang ditimbulkan oleh misinformasi dan berita palsu serta sedang berupaya untuk membangun pendidikan literasi media yang kritis.Β 

Meskipun fokus Indonesia pada media digital dan platform sosial semakin meningkat, pengajaran CML belum dimasukkan ke dalam kurikulum nasional. Banyak negara mengakui pentingnya CML di dunia digital saat ini dan bertujuan untuk mengintegrasikannya ke dalam sistem pendidikan mereka, terutama dalam kursus EFL. Memasukkan CML ke dalam kelas bahasa sangat efektif karena memungkinkan siswa untuk belajar bahasa secara bermakna dengan menganalisis dan mengevaluasi penggunaan bahasa dan konten dalam teks tertentu, sambil mempraktikkan komunikasi melalui proses produksi media. Siswa dapat meningkatkan kemampuan CML dan bahasa mereka dengan berpartisipasi dalam analisis sumber media, evaluasi dan kritik konten, serta diskusi sumber media dan konten.

Menggambarkan kerangka kerja baru untuk integrasi literasi media kritis dalam konteks EFL

Menyadari perlunya kerangka kerja yang inovatif untuk mengintegrasikan Literasi Media Kritis (Critical Media Literacy/CML) ke dalam kelas-kelas EFL, sebuah penelitian meneliti kerangka kerja pengajaran CML yang sudah ada bersamaan dengan kerangka kerja pengajaran bahasa. Penelitian ini mempertimbangkan persyaratan yang diidentifikasi melalui masukan dari para guru EFL. Untuk memasukkan CML ke dalam kelas EFL secara efektif, guru harus menyelaraskan pengajaran mereka dengan kurikulum dan standar.

Guru mengkaji landasan teoritis dari konsep CML, dengan mempertimbangkan karakteristik siswa dan tingkat kemahiran bahasa saat memilih materi dan media pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dan standar. Sebagai bagian dari pendekatan pengajaran mereka, sumber daya dan media yang tepat dapat mendorong inkuiri yang berpusat pada siswa, memfasilitasi diskusi, dan mendorong argumentasi dan ekspresi kreatif.

Pemahaman yang komprehensif mengenai landasan teori dan prinsip-prinsip CML mencakup literasi informasi, literasi digital, keterampilan komunikasi, pemikiran analitis dan kritis, kemampuan memecahkan masalah, kolaborasi, serta literasi budaya dan sosial. Selain itu, ketika mengintegrasikan CML ke dalam pelajaran EFL, guru harus menilai karakteristik individu siswa dan tingkat kemahiran bahasa untuk memenuhi potensi, kemampuan, dan kebutuhan pembelajaran mereka yang unik. Dengan mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan bahasa siswa, guru dapat secara efektif mendukung semua siswa.”

Menerapkan kerangka kerja ke dalam praktik

Guru dapat menggunakan dua strategi pengajaran untuk memasukkan komponen integrasi CML dalam kursus EFL: yaitu pemahaman media dan pembuatan media. Guru dapat mulai mengajarkan pemahaman media dengan meminta siswa untuk meneliti dan memeriksa berbagai sumber informasi. Alih-alih mengidentifikasi teks sebagai pembawa informasi yang tidak bias atau tidak memihak, siswa dapat dilatih untuk memahami dengan benar produksi postingan media sebagai sebuah proses sosial. Siswa didorong untuk menyimpulkan siapa yang menulis atau memberikan informasi dalam teks. Dalam skenario ini, siswa mungkin diminta untuk mengevaluasi berbagai informasi. Mereka harus memahami bahwa semua pesan media memiliki tujuan yang ditentukan oleh produsen dan mekanisme penyampaiannya.

Siswa didorong untuk membaca materi untuk mendapatkan pengetahuan tertentu dan mengolah serta menafsirkan informasi untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis informasi. Siswa didorong untuk mempelajari dan memahami materi dari beberapa sudut pandang, termasuk pertimbangan sosial, budaya, pendidikan, politik, dan ekonomi. Guru dapat menyesuaikan intensitas analisis dan aktivitas yang digunakan dalam kegiatan ini berdasarkan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa.

Strategi pengajaran lainnya adalah produksi media. Siswa harus dididik untuk menjadi pengguna informasi, pencipta, dan penyampai pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan strategi produksi media. Siswa harus diajarkan untuk memahami peran mereka dalam konsumsi media untuk menempatkan diri mereka dalam proses pembuatan makna dan terlibat dalam pengembangan media, publikasi, dan penyebaran informasi. Singkatnya, melalui periode panjang pendidikan CML di kelas EFL, siswa menjadi melek media dengan pemahaman yang lengkap, kesadaran budaya dan sosial, dan pemberdayaan sebagai bagian dari masyarakat.

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi jurnal

Afrilyasanti, R., Basthomi, Y., Laily Zen, E., & Fauziah, H. (2023). Addressing Information Overload in Smart Environment: Framework for Critical Media Literacy Integration in EFL Context. MEDIA PENDIDIKAN INTERNASIONAL60(1), 31-47. https://doi.org/10.1080/13504851.2023.2178623

Rida Afrilyasanti adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri Taruna Nala, Jawa Timur, dan seorang mahasiswa program doktoral dalam bidang Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang, Indonesia. Selama masa kuliahnya, Ia berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar di HSU, California, Amerika Serikat. Minatnya saat ini terletak pada pedagogi teknologi, inovasi pedagogi, media pembelajaran, dan literasi media.

Yazid Basthomi adalah Profesor Linguistik Terapan di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Indonesia. Selama studi doktoral nya, beliau melakukan penelitian sebagai penerima beasiswa Fulbright di ELI, Universitas Michigan-Ann Arbor. Dengan minat pada analisis genre, pendidikan lintas budaya, dan budaya digital, saat ini Ia menjabat sebagai koordinator divisi publikasi TEFLIN.