The wild world of AI: How animal species can be used in AI-based services
//

Mengintegrasikan hewan di alam liar ke dalam layanan berbasis AI

Seiring dengan berkembangnya kecerdasan buatan (AI), representasi hewan dalam AI menjadi semakin umum. Namun, bagaimana konsumen memandang mereka?

Hewan mana yang lebih suka Anda minta nasihat untuk berlari, beruang atau cheetah? Hewan mana yang akan Anda dengarkan jika Anda belajar bahasa baru: ayam atau burung hantu?

Meski pertanyaan-pertanyaan ini tampak konyol, dengan kecepatan berbagai platform dan layanan yang mengadopsi kecerdasan buatan (AI), bukan hal yang tidak masuk akal jika kita berasumsi bahwa kita akan segera memiliki pelatih lari online yang memiliki bulu, cakar, dan bintik-bintik. Terutama karena semakin banyak layanan yang mengadopsi AI yang bersifat zoonosis. Artinya, AI direpresentasikan dalam bentuk hewan.

Kita sudah dapat memiliki AI yang diwakili oleh seekor berang-berang yang mentranskripsikan catatan rapat kita melalui Otter.ai. Contoh lainnya termasuk GoCharlie.ai (anjing) dan burung hantu Duolingo. Bentuk-bentuk hewan digunakan sebagai representasi AI, yang melakukan tugas-tugas yang biasanya dilakukan oleh manusia, seperti menyediakan layanan pelanggan atau mengajarkan bahasa.

Bagaimana interpretasi budaya dapat mempengaruhi penerimaan representasi hewan yang berbeda dalam layanan berbasis AI? Karena nuansa budaya secara signifikan mempengaruhi persepsi tentang hewan yang berbeda, adopsi AI yang bersifat zoonosis juga dapat bervariasi berdasarkan budaya. Sebagai contoh, meski robot anjing mungkin cocok untuk budaya Barat, namun mungkin tidak ideal untuk negara-negara Timur Tengah.

Anshu Suri

AI zoonosis dan konsumen

Untuk memahami dampak AI zoonosis terhadap adopsi konsumen, para peneliti dari Fakultas Bisnis Pascasarjana UCD Michael Smurfit, HEC Montréal, dan Fakultas Bisnis Universitas Nottingham, di China, melakukan serangkaian penelitian. Hal ini termasuk menilai tanggapan peserta terhadap berbagai representasi AI robotik zoonosis dan humanoid, seperti asisten copywriting beruang AI, burung beo AI, asisten kebugaran harimau AI, dan banyak lagi.

Hasil dari studi awal memang mengkonfirmasi bahwa konsumen cenderung tidak akan memilih AI dibandingkan dengan penyedia layanan manusia di dunia nyata ketika AI diwakili oleh hewan dibandingkan dengan robot humanoid. Hal ini disebabkan karena konsumen merasa sulit untuk mengasosiasikan hewan dengan tugas tersebut. Sebagai contoh, sulit untuk membayangkan seekor beruang membantu Anda dalam penulisan naskah.

The wild world of AI: How animal species can be used in AI-based services
Kredit. Midjourney

Konsep prototipikalitas

Para penulis juga membangun konsep prototipikalitas untuk menjelaskan kesulitan konsumen dalam mendelegasikan tugas kepada AI yang mirip hewan daripada AI robot humanoid. Biasanya, robot humanoid mewakili AI. Jika Anda diminta untuk membayangkan sebuah AI, kemungkinan besar Anda akan menggambarkannya sebagai robot yang mirip manusia. Akan sangat tidak mungkin bagi seseorang untuk membayangkan AI yang diwakili oleh seekor binatang.

Namun, para penulis menunjukkan situasi di mana dampak negatif dari penggunaan AI yang menyerupai hewan dapat dikurangi. Sebuah studi lanjutan menunjukkan bahwa konsumen sama-sama menerima AI dalam bentuk hewan (sebagai AI robot humanoid) jika tugasnya tampak sesuai dengan spesiesnya, seperti menerima saran berlari dari seekor cheetah. Bagaimanapun juga, cheetah adalah salah satu hewan tercepat di darat!

Secara naluriah, manusia sering mengasosiasikan hewan dengan sifat-sifat manusia. Sebagai contoh, banyak budaya di seluruh dunia yang mengasosiasikan burung hantu dengan kebijaksanaan dan kecerdasan, yang merupakan atribut penting dalam hal menjadi seorang guru. Hal ini dapat menjelaskan mengapa burung hantu dipilih untuk Duolingo, sebuah aplikasi yang digunakan untuk belajar bahasa.

Selain itu, dalam sebuah penelitian terakhir, konsumen ternyata lebih menerima AI hewan daripada AI humanoid jika aktivitas, pengalaman, atau produknya dianggap menyenangkan dan menyenangkan. Sebagai contoh, bukankah Anda akan lebih senang belajar dari AI yang diwakili oleh burung beo daripada AI robot? Sederhananya, ketika pengguna mencari efisiensi, AI yang bersifat kebinatangan mungkin merupakan ide yang buruk. Namun, ketika mencari pengalaman yang menyenangkan, seperti bersenang-senang sambil belajar, AI kebinatangan akan lebih disukai daripada AI robotik.

Implikasi praktis

Bagi mereka yang terlibat dalam pengembangan produk digital, berdasarkan temuan penelitian ini, perlu dipertanyakan efektivitas penggunaan representasi hewan dalam memberikan layanan berbasis AI karena konsumen cenderung tidak akan mengadopsi layanan ini jika disediakan oleh AI zoonosis. Terutama mengingat investasi finansial yang cukup besar yang dilakukan perusahaan dalam mengembangkan dan memasarkan layanan berbasis AI.

Namun, jika pengembang memilih untuk mengadopsi suatu spesies hewan untuk mewakili produk AI, perlu dipertimbangkan untuk memastikan bahwa spesies yang dipilih sesuai dengan sifat layanan yang ditawarkan. Penafsiran budaya juga perlu dipertimbangkan, karena budaya yang berbeda dapat memandang berbagai spesies hewan dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh, burung hantu mungkin dianggap bijaksana dan cerdas di beberapa budaya, representasi yang bagus untuk layanan pembelajaran, tetapi dianggap sebagai tanda kemalangan di budaya lain.

Perusahaan juga dapat memperoleh manfaat dari menekankan aspek hiburan dari tugas AI untuk membantu memastikan konsumen lebih cenderung menerima hewan AI. Hal ini dapat dilihat dari kekaguman konsumen terhadap burung hantu Duolingo, karena membantu mereka menikmati pembelajaran bahasa baru, sebuah tugas yang mungkin melelahkan bagi sebagian orang.

Kesimpulan

Sebagai contoh praktis, beberapa tahun yang lalu, BarkBox, sebuah perusahaan yang berspesialisasi dalam kotak langganan dengan mainan anjing, meluncurkan bot anjing (chatbot yang menggunakan AI yang diwakili oleh seekor anjing untuk menjawab pertanyaan). Bukan ide yang buruk bagi BarkBox untuk memahami konteks pertanyaan dan menggunakan AI humanoid atau kebinatangan yang sesuai. Misalnya, pelanggan yang mencoba memahami berbagai jenis camilan dan mainan anjing, sebuah aktivitas yang tampaknya menyenangkan, dapat berinteraksi dengan bot anjing. Namun, pelanggan yang mencoba mengembalikan produk, idealnya akan dilayani oleh AI robot humanoid, karena konteks ini mencari efisiensi dan fungsionalitas.

Temuan ini meningkatkan pemahaman tentang interaksi konsumen-AI dalam konteks desain zoonosis dan memberikan wawasan manajerial yang berharga tentang kapan dan bagaimana perusahaan harus menggunakan representasi hewan untuk layanan bertenaga AI. Dengan memeriksa dampak prototipe AI robotik dan zoonosis terhadap penerapan pada konsumen, penelitian ini membuka kemungkinan dan jalan untuk dieksplorasi lebih lanjut mengenai topik yang selama ini kurang mendapat perhatian.

🔬🧫🧪🔍🤓👩‍🔬🦠🔭📚

Referensi jurnal

Poirier, S. M., Huang, B., Suri, A., & Sénécal, S. (2024). Beyond humans: Consumer reluctance to adopt zoonotic artificial intelligence. Psychology & Marketing41(2), 292-307. https://doi.org/10.1002/mar.21934

Anshu Suri adalah Asisten Profesor Pemasaran UCD Garfield Weston di Sekolah Bisnis Pascasarjana UCD Michael Smurfit. Penelitian Dr. Suri berfokus pada pemahaman tanggapan konsumen dalam menghadapi kegagalan merek dan layanan, serta menyoroti aspek-aspek penting dari perilaku konsumen. Bidang keilmuannya juga mencakup interaksi konsumen-teknologi dan ekonomi berbagi, yang berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika pasar kontemporer.