Sampah makanan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, polusi tempat pembuangan akhir, dan masalah ketahanan pangan global. Mengatasi hal ini sangat penting untuk keberlanjutan, dengan memanfaatkannya kembali sebagai pupuk hayati akan memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.
///

Menumbuhkan keberlanjutan: Limbah makanan sebagai pupuk hayati untuk taman hias

Sampah makanan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, polusi tempat pembuangan akhir, dan masalah ketahanan pangan global. Mengatasi hal ini sangat penting untuk keberlanjutan, dengan memanfaatkannya kembali sebagai pupuk hayati akan memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.

Sampah makanan secara signifikan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dan polusi TPA. Ketika sampah organik, seperti sisa makanan, terurai di tempat pembuangan akhir, sampah tersebut melepaskan metana, gas rumah kaca yang kuat. Siklus produksi, pengangkutan, dan pembuangan makanan yang tidak termakan tidak hanya menghabiskan energi yang tidak perlu, tetapi juga menyebabkan deforestasi. Selain itu, sampah makanan juga memperburuk masalah ketahanan pangan dan kelaparan global, karena makanan yang tidak termakan akan menyia-nyiakan sumber daya yang dapat mengatasi kekurangan gizi di antara populasi yang rentan. Selain itu, penguraian sampah makanan di TPA menghasilkan limbah sampingan yang berbahaya, mencemari tanah dan air, serta menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Mengatasi sampah makanan sangat penting untuk pelestarian lingkungan dan memiliki dampak yang signifikan bagi kesehatan manusia. Konversi limbah makanan menjadi pupuk hayati menggunakan berbagai teknik untuk memaksimalkan pemulihan nutrisi dan meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Pengomposan, melalui penguraian mikroba, mengubah sampah organik menjadi kompos yang kaya nutrisi yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu, pencernaan anaerobik merupakan metode alternatif yang berkelanjutan untuk produksi pupuk hayati, menggunakan mikroorganisme dalam lingkungan bebas oksigen untuk mengubah limbah makanan menjadi biogas dan digestat yang kaya akan unsur hara.

Konversi limbah makanan menjadi pupuk hayati menawarkan banyak keuntungan bagi lingkungan dan pertanian. Konversi ini mengurangi emisi metana dan polusi secara keseluruhan dengan mengalihkan limbah makanan dari tempat pembuangan sampah. Pupuk hayati yang kaya nutrisi yang berasal dari sampah makanan memberikan nutrisi penting bagi tanaman, meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan hasil panen. Produksi pupuk hayati juga berkontribusi pada ekonomi sirkular, yang mendorong efisiensi sumber daya dan praktik pertanian berkelanjutan. Pupuk yang terbuat dari limbah makanan bermanfaat bagi berbagai jenis tanaman. Tomat, paprika, dan selada, serta stroberi dan semangka, adalah contoh yang umum. Daun Pecut Kuda, mawar, marigold, dan bunga matahari juga mendapat manfaat dari kandungan kaya nutrisi pupuk ramah lingkungan ini, yang menunjukkan keserbagunaannya dalam mendukung berbagai jenis tanaman.

Gambar 1. Gambaran umum tentang metode pembuatan pupuk hayati dari limbah makanan.
Kredit. Penulis

Penerapan untuk skala besar

Sebuah langkah visioner menuju pertanian berkelanjutan adalah penerapan penggunaan limbah makanan berskala besar untuk produksi pupuk hayati. Kombinasi sinergis antara bioteknologi canggih, pengelolaan nutrisi yang presisi, dan pandangan ekologis menciptakan inisiatif transformatif ini. Tujuan kami adalah memanfaatkan potensi laten limbah makanan untuk mengkatalisasi revolusi tanah dengan mengatur tarian mikroorganisme yang rumit dalam lingkungan yang terkendali. Manfaatnya lebih dari sekadar meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga untuk mengurangi degradasi lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan membudidayakan ekosistem pertanian yang berketahanan. Dalam perubahan paradigma ini, sampah diubah menjadi sumber daya regeneratif yang memelihara lingkungan dan memastikan ketahanan pangan untuk generasi mendatang dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan keberlanjutan.

Dengan mengubah limbah menjadi sumber daya, saya memelopori solusi berkelanjutan di persimpangan antara mikrobiologi dan teknik. Memadukan mikrobiologi dengan teknik mutakhir, saya mengubah limbah menjadi sumber daya yang tak ternilai-menciptakan air yang didetoksifikasi, bahan bakar nabati, dan pupuk hayati yang memastikan planet yang sehat untuk generasi yang akan datang.

Pooja Sharma

Saran kebijakan dan pemerintah untuk mengubah sampah menjadi nilai tambah

Menggunakan kembali limbah makanan sebagai pupuk hayati untuk taman hias merupakan praktik praktis yang tidak hanya mengurangi masalah lingkungan, tetapi juga berkontribusi pada berkembangnya area hijau. Pemerintah harus mendukung dan menerapkan kebijakan yang mendorong pendekatan ramah lingkungan ini. Pertama-tama, pemerintah dapat membuat kampanye kesadaran untuk mengedukasi masyarakat tentang limbah makanan dan manfaatnya sebagai pupuk hayati. Dengan mempromosikan inisiatif semacam itu, kita berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB, khususnya Tujuan 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Selain itu, kerangka kerja kebijakan harus mendorong rumah tangga, bisnis, dan komunitas lokal untuk memisahkan limbah makanan untuk produksi pupuk hayati. Insentif, subsidi, atau hibah dapat diberikan untuk mendorong adopsi sistem pengomposan. Selain kebijakan-kebijakan tersebut, infrastruktur pengelolaan sampah yang baik harus tersedia untuk memfasilitasi pengumpulan dan pengolahan sampah organik. Penting juga bagi pemerintah untuk berkolaborasi dengan lembaga pertanian dan hortikultura untuk mengembangkan pedoman penggunaan pupuk hayati yang aman dan efektif dari limbah makanan. Dengan melakukan hal ini, praktik ini mematuhi standar lingkungan dan kesehatan. Konsumen dan tukang kebun dapat diyakinkan akan kualitas pupuk hayati dengan menerapkan proses pengujian dan sertifikasi yang ketat.

Integrasi kebijakan dan pengakuan global

Pemerintah harus mengintegrasikan temuan ini ke dalam kerangka kebijakannya, dengan menyoroti keuntungan dari pengurangan sampah dan mempromosikan praktik berkebun yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pendekatan yang komprehensif, limbah makanan dapat digunakan sebagai pupuk hayati di taman hias, sehingga mempercepat pergeseran menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan lebih hijau. Kebijakan yang menumbuhkan kesadaran, mendorong pemilahan sampah, dan menegakkan standar keamanan sangat penting untuk memfasilitasi transisi ini. Penerapan limbah makanan sebagai pupuk hayati di taman hias selaras dengan berbagai kebijakan internasional dan nasional yang menggarisbawahi pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.

Secara global, ada peningkatan penekanan pada praktik ekonomi sirkular, dengan Uni Eropa (UE) memimpin melalui Rencana Aksi Ekonomi Sirkular (CEAP). CEAP mendorong negara-negara anggotanya untuk terlibat dalam praktik pertanian berkelanjutan dan meminimalkan limbah makanan. Demikian pula, Program Daur Ulang Sampah Makanan Korea Selatan menunjukkan pendekatan proaktif dengan mengumpulkan dan mengubah sampah makanan menjadi pupuk hayati.

Di Amerika Serikat, peraturan pengomposan wajib di San Francisco telah berhasil mengalihkan sejumlah besar sampah organik, termasuk sampah makanan, dari tempat pembuangan sampah. Rencana Induk Nol Sampah Singapura dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, khususnya Tujuan 12, menganjurkan praktik pengelolaan limbah yang berkelanjutan untuk mengurangi dampak konsumsi dan produksi. Inisiatif ini mencerminkan pengakuan dunia terhadap potensi pemanfaatan kembali limbah makanan untuk keperluan pertanian, termasuk dalam budidaya taman hias.

Tantangan dan peluang

Di wilayah yang belum dipetakan dalam penyebaran pupuk hayati limbah makanan, ada tantangan yang berat dan peluang yang tak terbatas. Mengoptimalkan konsorsium mikroba, rasio nutrisi, dan penskalaan membutuhkan solusi bioteknologi mutakhir karena kompleksitas labirinnya. Tantangan-tantangan tersebut muncul sebagai teka-teki yang rumit, mulai dari memastikan formulasi yang bebas patogen hingga menyinkronkan proses biokonversi. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, benih-benih inovasi terbaring, siap untuk bertunas. Dengan mengubah sampah menjadi kekayaan, kita tidak hanya dapat mengatasi masalah lingkungan tetapi juga membuka pintu menuju ekonomi sirkular di mana setiap molekul yang kaya nutrisi menjadi mata uang pembangunan berkelanjutan. Melompat ke hal yang tidak diketahui, para pionir dapat memetakan jalan melalui batas-batas ilmiah di mana tantangan menerangi jalan, dan peluang menerangi jalan menuju masa depan yang regeneratif dan hijau.

Kesimpulan

Limbah makanan dan pupuk hayati memainkan peran penting dalam pelestarian lingkungan dan ketahanan pertanian. Limbah makanan berdampak negatif terhadap ketahanan pangan dan emisi gas rumah kaca. Sebagai kesimpulan, "Mengembangkan Keberlanjutan: Limbah Makanan sebagai Pupuk Hayati untuk Taman Hias" merangkum peluang yang menjanjikan untuk membudidayakan lanskap yang indah dan masa depan yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan kembali sampah makanan menjadi pupuk hayati tidak hanya meningkatkan kesehatan dan estetika taman hias, tetapi juga mengatasi masalah lingkungan yang mendesak.

Saat kami merangkul sinergi antara tanggung jawab ekologi dan kelayakan ekonomi, "Mengembangkan Keberlanjutan" tidak hanya menandakan inovasi hortikultura tetapi juga investasi strategis untuk masa depan yang lebih hijau dan ramah lingkungan. Menggunakan pupuk hayati limbah makanan dalam berkebun hias dapat menghemat uang individu dan perusahaan pertamanan dari segi biaya. Pengurangan penggunaan pupuk tradisional, serta biaya produksi dan transportasi yang terkait, berkontribusi pada efisiensi ekonomi. Model ekonomi sirkular yang melekat pada pendekatan ini mengubah sampah menjadi sumber daya yang berharga, mengurangi dampak finansial dari metode pembuangan yang tidak efisien.

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi jurnal

Sharma, P., Tiong, Y. W., Yan, M., Tian, H., Lam, H. T., Zhang, J., & Tong, Y. W. (2023). Assessing Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl growth response and rhizosphere microbial community structure after application of food waste anaerobic digestate as biofertilizer with renewable soil amendments. Biomass and Bioenergy178, 106968. https://doi.org/10.1016/j.biombioe.2023.106968

Dr. Sharma adalah seorang Ilmuwan Penelitian Pascadoktoral di Universitas Nasional Singapura yang berspesialisasi dalam pengelolaan limbah/air limbah melalui penggunaan mikroba untuk mencapai pengelolaan polusi yang berkelanjutan. Keahliannya terletak pada strategi mikroba, khususnya pencernaan anaerobik/reaktor, yang dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi terbarukan. Beliau memperoleh gelar Doktor di bidang Mikrobiologi Lingkungan di India pada tahun 2020. Kontribusi penelitiannya yang luar biasa telah mendapatkan pengakuan nasional dan internasional, termasuk penghargaan bergengsi seperti "Medali Ilmuwan Muda" dari International Society of Environmental Botanists (ISEB), CSIR-NBRI, di India, Penghargaan Makalah Terbaik dari NKUST, di Taiwan, dan Penghargaan Hibah Perjalanan dari Federation of European Microbiological Societies (FEMS) di Hamburg, Jerman pada tahun 2023.

Prof Tong adalah seorang Profesor di Universitas Negeri Singapura, Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler. Keterlibatan internasionalnya meliputi posisi Visiting Scholar di Departemen Teknik Mesin Universitas Jiaotong Shanghai pada bulan September-Oktober 2016 dan posisi yang sama di Departemen Teknik Kimia Universitas California, Santa Barbara pada bulan Januari-Agustus 2016. Selain pengalaman penelitian dan pengajarannya yang luas, Prof Tong telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengelolaan limbah, bahan bakar nabati, sintesis polimer, dan teknik biomedis selama karirnya.