//

Meningkatnya jumlah kebakaran hutan membutuhkan pendekatan pengurangan resiko bencana yang baru

Api memainkan peran alami dan penting dalam banyak ekosistem, tetapi jumlah kebakaran hutan terus meningkat, menuntut pendekatan pengelolaan yang baru.

Api merupakan sistem proses pembentukan bumi yang penting dan agen gangguan ekosistem terestrial utama dalam skala global, dan hal itu bergantung pada karakteristik vegetasi, iklim, dan aktivitas manusia. Fenomena ini menghasilkan umpan balik dengan memengaruhi siklus biogeokimia, komposisi dan struktur vegetasi, atmosfer tanah, pertukaran air dan panas, kimia dan komposisi atmosfer, serta kesehatan dan properti manusia. Dengan demikian, kebakaran hutan merupakan variabel kunci dalam sistem Bumi global dan merupakan bagian integral dari beberapa bioma, menjadi faktor penting untuk berfungsinya banyak ekosistem.

Saat ini, faktor manusia sangat mempengaruhi terjadinya kebakaran , dan ulah kebakaran tertentu dapat dianggap didorong oleh manusia

Bumi sangat luas dan 'piro geografinya' bervariasi dan berubah sepanjang sejarah geologisnya. Kebakaran besar dulunya jarang terjadi, tetapi semakin sering terjadi. Kejadiannya sekarang sering terjadi, sebagai peristiwa yang terisolasi atau tercakup dalam banyak kebakaran beruntun, di berbagai wilayah di dunia. Perkembangan ini telah berkontribusi pada meningkatnya kekhawatiran, karena merupakan fenomena bencana yang parah dengan banyak efek negatif yang serius, yang sering menyebabkan kematian manusia.

Megafire di Portugal
Sumber: RTP

Megafire (Kebakaran besar) di era modern 

Kebakaran Great Black Dragon China tahun 1987 mungkin menandai awal dari fenomena megafire di era modern. Kebakaran lahan liar merenggut nyawa lebih dari 200 orang dan membakar sekitar 1,2 juta hektar lahan.

Peristiwa serupa terjadi sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Kebakaran Miramichi (1825), Kebakaran Peshtigo (1871), Kebakaran Besar di Amerika Serikat (1910), Kebakaran hutan Black Friday di negara bagian Victoria, Australia (1939), serta Kebakaran di negara bagian Paraná, Brasil (1963). merupakan kebakaran yang sangat terkenal.

Beberapa dekade terakhir ini ditandai dengan meningkatnya kekhawatiran tentang masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim dan dampak langsung dan tidak langsungnya terhadap masyarakat, beberapa di antaranya secara langsung atau tidak langsung terkait dengan risiko alam dan kemungkinan manifestasinya yang mengarah pada bencana alam.

Pada tahun 1989 PBB menetapkan Hari Internasional untuk Pengurangan Bencana dan tahun-tahun berikutnya, yaitu tahun 1990-an, dideklarasikan sebagai International Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR) atau Dekade Internasional untuk Pengurangan resiko Bencana Alam. Inisiatif dan kegiatan yang dikembangkan dalam kerangka IDNDR memuncak dalam Mandat di kota Jenewa tentang Pengurangan resiko Bencana, yang diadopsi pada tahun 1999, yang menganggap pengurangan resiko bencana dan manajemen risiko sebagai elemen penting untuk dimasukkan dalam kebijakan pemerintah untuk memastikan pembangunan dan investasi yang berkelanjutan.

Terlepas dari upaya mitigasi bencana alam tersebut, lebih dari dua dekade kemudian, pada tahun 2022, United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) mempresentasikan Global Assessment Report (GAR2022), atau Laporan Penilaian Global, yang berjudul “Dunia Kita yang Berisiko: Transformasi Tata Kelola untuk Masa Depan yang Tangguh“, dimana diperkirakan pada tahun 2030 rata-rata akan terjadi 560 bencana setiap tahunnya, yang mewakili 1,5 bencana setiap harinya .

Dalam laporan Risiko Global 2022 mengidentifikasi bahwa, pada tingkat lingkungan, kegagalan dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim (ke-1), peristiwa cuaca ekstrem (ke-2), hilangnya keanekaragaman hayati (ke-3), kerusakan lingkungan oleh manusia (ke-7), dan krisis sumber daya alam (ke-8), di antara 10 risiko global paling serius untuk 10 tahun ke depan, beberapa di antaranya sangat diperparah oleh krisis pandemi yang sedang berlangsung.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa, misalnya, peristiwa cuaca ekstrem (gelombang dingin, kebakaran hutan, banjir, gelombang panas, badai, dll.) akan menyebabkan peningkatan korban jiwa manusia, kerusakan ekosistem, dan perusakan harta benda dan/atau kerugian finansial secara global.

Nyatanya, perubahan iklim dengan cepat memanifestasikan dirinya dalam bentuk kekeringan, kebakaran hutan, banjir, kelangkaan sumber daya dan hilangnya spesies, di antara dampak lainnya, dan diketahui bahwa beberapa tindakan untuk memitigasinya juga akan menimbulkan kerugian bagi alam.

Zaman api

Sejak 2015, Stephen Pyne telah memperingatkan bahwa intensifikasi kebakaran hutan, yang diperburuk oleh krisis iklim, dapat mengantarkan era baru – Zaman Api, atau Pirosen.

Meskipun ini adalah peringatan yang provokatif, beberapa dekade terakhir telah menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi generasi baru kebakaran hutan dalam skala global di mana tidak ada wilayah, orang, atau sistem perlindungan dan penyelamatan saat ini yang sudah dipersiapkan.

Realitas ini telah memaksa pihak berwenang untuk mengambil berbagai tindakan manajemen risiko, termasuk bantuan pendidikan untuk risiko bencana, komitmen yang serius dan berkelanjutan untuk perencanaan wilayah, analisis berkelanjutan, langkah-langkah pencegahan dan manajemen risiko bencana, dan mengadopsi metodologi multi-risiko baru yang sekarang menjadi fundamental. untuk manajemen risiko bencana.

Selanjutnya, analisis biaya/manfaat diperlukan, serta pertimbangan dinamika sosial seperti risiko individu. Semua faktor risiko diperhitungkan secara bersama-sama – sebuah konsep yang dikenal sebagai “kapasitas reaksi”, mengadakan kerangka kerja penting untuk pencegahan kebakaran besar dan perencanaan darurat yang harus diperhitungkan dalam manajemen risiko kebakaran besar.

António Bento-Gonçalves adalah Profesor Madya Geografi Fisik dan Studi Lingkungan di Departemen Geografi, Universitas Minho, Portugal, dan Peneliti di Pusat Penelitian Komunikasi dan Masyarakat (CECS). António Bento-Gonçalves adalah Direktur Departemen Geografi (Universitas Minho, Portugal) dan antara tahun 2020 hingga 2022 menjabat sebagai Presiden APG (Asosiasi Ahli Geografi Portugal). Topik penelitian utamanya adalah Geografi, kebakaran hutan, dan bahaya alam.