/

Mikroba seluler: ponsel merupakan hotel bintang lima bagi mikroba untuk menyebarkan penyakit

Ponsel telah menjadi kiasan sebagai tangan ketiga kita, lalu apa yang terjadi jika kita tidak membersihkannya secara rutin?

Ponsel adalah hotel bintang 5 untuk mikroba, yang secara instan meniadakan standar emas dari kebersihan tangan sebagai ukuran pengendalian infeksi.

Menurut penelitian yang kami lakukan pada tahun 2021, 173 bakteri, 8 jamur, 8 protista, 53 bakteriofag, 317 gen faktor virulensi, dan 41 gen kebal antibiotik berbeda hidup di permukaan ponsel yang berasal dari masyarakat. Bahkan angka yang lebih tinggi ditemukan pada telepon seluler yang berasal dari rumah sakit milik petugas kesehatan.

Ponsel adalah platform terkontaminasi mikroba yang sangat sering disentuh dan digunakan rata-rata selama lebih dari 4 jam sehari. Ponsel seperti hotel bintang 5 untuk mikroba karena:

  1. Ponsel adalah tempatnya mikroba, disentuh ribuan kali sehari oleh tangan yang kotor, sering digunakan di kamar mandi dan disimpan di saku atau tas yang kotor.
  2. Ponsel adalah perangkat elektronik yang dipanaskan saat pengisian, dengan suhu yang dikendalikan yang mana tempat mikroba berkembang biak.
  3. Tetesan air liur terus-menerus ditumpahkan ke permukaan telepon selama panggilan berlangsung, bertindak sebagai 'spa' atau 'kolam' mikroba yang dilembabkan secara ideal.
  4. Orang-orang secara teratur makan sambil memegang ponsel mereka, dan potongan-potongan kecil makanan sering jatuh ke layar, menyediakan nutrisi seperti 'prasmanan gratis' untuk mikroba.
  5. Permukaan ponsel dapat dilihat sebagai 'ruang pribadi' di mana transfer genetik horizontal biasa terjadi, seperti pertukaran gen faktor resistensi antibiotik dan virulensi penyakit.

Ponsel bertindak sebagai 'tangan ketiga' yang terkontaminasi mikroba

Ponsel telah menjadi kiasan tangan ketiga kita, yang untuk semua maksud dan tujuan 'melekat' pada kita, sekaligus menjadi platform yang sangat terkontaminasi yang meneruskan mikroba ke tangan biologis kita. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa kebersihan tangan menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya. Tetapi ponsel meniadakan cuci tangan dan karenanya membahayakan kesehatan kita. Sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat kita masih belum diketahui. Hal ini penting karena ponsel kotor ini digunakan oleh jutaan petugas kesehatan, penjamah makanan, pelancong, guru, perawat lansia dan pengasuh anak, petugas tanggap depan, dan banyak lagi.

Ignaz Semmelweis, yang pada abad ke-19th merevolusi pengendalian dan pencegahan infeksi, adalah bapak cuci tangan. Jika dia masih hidup hari ini, SMS-nya kepada kita semua di dunia mungkin akan berbunyi, "Tolong, bersihkan tangan ketiga Anda juga," dan pesan seperti itu, ironisnya, akan menjadi 'viral'. 

Wanita menyemprotkan ponsel dengan disinfektan
Sumber: Pexels / Gustavo Fring

Mikroba pada ponsel merupakan risiko Kesehatan

Pada Penelitian kami yang memeriksa ponsel masyarakat, kami adalah orang pertama yang melaporkan adanya protozoa seperti Entamoeba histolytica, yang diperoleh melalui jalur fekal-oral. Beberapa bakteri yang ditemukan pada ponsel yang berasal dari masyarakat yang kami periksa juga terkait dengan penyakit pada manusia dan termasuk Staphylococcus aureus (Golden staph), Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, Acinetobacter baumannii, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella enterica, Bordetella pertussis, Campylobacter, Escherichia coli, dan Enterococcus spesies. 

Di antara 317 gen faktor virulensi yang teridentifikasi, 96% gen penyakit eksaserbasi terkait dengan bakteri Staphylococcus aureus (Golden staph). Sebanyak 41 jenis gen kebal antibiotik yang berbeda juga ditemukan pada ponsel yang berasal dari masyarakat, menunjukkan bahwa perangkat genggam menjadi perhatian nyata bagi kesehatan masyarakat global.

Sebagai contoh, virus SARS-CoV-2 telah terbukti dapat bertahan hidup di ponsel hingga 28 hari, sementara bakteri dapat bertahan hidup lebih lama pada benda mati, dengan E.coli bertahan antara 7 hari dan 1 tahun dan S. aureus (Golden staph) bertahan paling sedikit selama 1,5 jam dan paling lama selama 16 bulan

Umur panjang dan kegigihan mikroba untuk bertahan hidup di permukaan ponsel menimbulkan banyak tanda bahaya di arena kesehatan masyarakat global karena beberapa alasan:

Pertama, tangan kita terkontaminasi silang setiap kali menggunakan ponsel. Penelitian telah menunjukkan bahwa kita menyentuh wajah kita lebih dari 20 kali dalam satu jam dan, oleh karena itu, perpindahan mikroba dari ponsel ke tangan kita, dan dari tangan ke wajah kita, secara tidak sengaja akan mengakibatkan penyebaran kuman ke tubuh kita.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah melaporkan bahwa 80% dari semua infeksi yang umum terjadi berasal dari tangan kita. Namun, sebagian besar orang tidak menyadari penanaman dari kuman penyebab penyakit itu sendiri yang terjadi ketika mereka menyentuh wajah mereka setelah jari mereka terkontaminasi oleh ponsel mereka.

Kedua, mikroba bertahan hidup di permukaan benda mati selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Moda transportasi modern memungkinkan jutaan orang melakukan perjalanan keliling dunia setiap tahun. Risiko penyebaran mikroba di seluruh dunia dapat diperparah oleh ponsel miliaran pelancong yang memasuki perbatasan non-endemik tanpa pemeriksaan bea cukai atau penerapan disinfestasi perangkat.

Pada tahun 2020, kami ber hipotesis, dalam tinjauan pelingkupan, bahwa ponsel dapat menyebabkan SARS-CoV-2 menyebar dengan cepat ke seluruh planet melalui sistem transportasi modern. Beberapa laporan telah mendukung hal ini, dengan mencatat adanya keberadaan virus SARS-CoV-2 di ponsel pasien COVID-19.

Penelitian kami juga menunjukkan adanya patogen hewan dan tumbuhan pada ponsel, meningkatkan kekhawatiran kesehatan masyarakat lebih lanjut, karena patogen zoonosis adalah mikroba yang berpotensi 'melompat' dari hewan ke manusia.

Flora dan fauna asli di beberapa negara mungkin terpengaruh karena mikroba tanaman dan hewan pada ponsel dapat melakukan perjalanan melintasi keamanan perbatasan tanpa terdeteksi oleh otoritas biosekuriti.

Oleh karena itu, otoritas biosekuriti perbatasan, serta otoritas kesehatan masyarakat, perlu mempertimbangkan secara serius pentingnya sanitasi ponsel di perbatasan. Hal ini dapat menciptakan penyelamatan nyawa, pengeluaran kesehatan masyarakat, dan perlindungan fauna/flora asli.

infographic showing how mobile phones are hotels for microorganisms
Infografis tentang mikroba pada ponsel
Sumber: Dr Matthew Olsen dan Dr Lotti Tajouri

Bagaimana cara membersihkan ponsel kita?

Mengingat kontaminasi mikroba ponsel yang dinamis dan berkelanjutan, sanitasi ponsel harus sering dilakukan dan hal serupa dengan mencuci tangan. 

Menggunakan bahan kimia tidaklah ideal, karena lap/tisu dengan bahan kimia dapat merusak bagian ponsel seperti lapisan oleofobik pada sebagian besar ponsel pintar yang ada di pasaran saat ini. Selain itu, penggunaan tisu yang sering adalah metode yang tidak berkelanjutan dan memakan waktu dan mungkin juga dapat merusak ponsel. 

Baru-baru ini, sanitiser berbasis ultraviolet-C yang dapat mendisinfeksi ponsel dengan aman telah dikembangkan. Meskipun banyak dari perangkat ultraviolet-C (UV-C) ini tersedia, konsumen sebaiknya hanya membeli instrumen yang kuat, aman, bersertifikat, dan dikenal efisien dalam membunuh mikroba. Selain itu, memastikan kepatuhan terhadap pembersihan ponsel adalah hal yang terpenting. Bukti menunjukkan bahwa sanitiser ponsel UV-C yang dapat membersihkan ponsel dalam 10-20 detik praktis untuk digunakan dalam semua skenario. 

Kebersihan tangan secara umum, bersama dengan ponsel yang disanitasi UV-C dapat dicapai dan praktis (lihat infografis bergambar). Berdasarkan penelitian kami, kami percaya bahwa penerapan sanitiser ponsel UV-C yang efisien dan cepat di tempat umum dan pribadi kemungkinan akan mengurangi penyebaran dan infeksi mikroba di seluruh dunia dan berkontribusi pada pengurangan biaya pengeluaran kesehatan masyarakat global, sejalan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Miliaran ponsel 'kotor' secara global menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat dan biosekuriti karena penyebaran patogen. Mengimplementasikan perangkat pembersih ponsel Ultraviolet-C di semua tempat pribadi dan publik sangat penting untuk pengendalian infeksi global dan peningkatan kesehatan masyarakat. 

πŸ”¬πŸ§«πŸ§ͺπŸ”πŸ€“πŸ‘©β€πŸ”¬πŸ¦ πŸ”­πŸ“š

Referensi

Tajouri, L., Campos, M., Olsen, M., Lohning, A., Jones, P., Moloney, S., Grimwood, K., Ugail, H., Mahboub, B., Alawar, H., McKirdy, S., & Alghafri, R. (2021). The role of mobile phones as a possible pathway for pathogen movement, a cross-sectional microbial analysis. Travel Medicine and Infectious Disease, 43, 102095. https://doi.org/10.1016/j.tmaid.2021.102095

Dr Lotti Tajouri adalah seorang Asisten Profesor di Universitas Bond dan Universitas Murdoch di bidang Genetika Molekuler dan anggota eksklusif Dewan Ilmiah Kepolisian Dubai. Penelitiannya terkait dengan penyakit autoimun, Kesehatan Masyarakat, dan Biosekuriti Global dengan lebih dari 60 publikasi di jurnal ilmiah internasional yang telah ditelaah oleh rekan sejawat.

Professor Rashed Alghafri adalah Direktur Pusat Internasional untuk Ilmu Forensik dan Kriminologi, Ketua Dewan Ilmuwan Kepolisian Dubai, dan seorang peneliti khusus yang aktif di bidang Genetika Forensik. Beliau dianugerahi gelar profesor di Universitas Murdoch, UEA, dan Universitas Bond. Beliau juga telah berhasil menyelesaikan Program Kepemimpinan Pembangunan dan Program Pakar Nasional di UEA yang diselenggarakan oleh MBRCLD dan NEP.

Dr Matthew Olsen adalah lulusan doktoral dari Universitas Bond yang tesisnya berfokus pada penguraian peran Ponsel sebagai vektor penyebaran penyakit menular. Dia telah menerbitkan banyak artikel di jurnal ilmiah internasional yang ditinjau oleh rekan sejawat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang protokol sanitasi ponsel yang efektif. Penelitiannya saat ini berfokus pada eksplorasi penerapan teknologi sanitasi UV-C baru di lingkungan masyarakat dan perawatan kesehatan.

Profesor Simon McKirdy adalah Pro Wakil Rektor di Institut Harry Butler dan Profesor di bidang Biosekuriti di Universitas Murdoch. Keahliannya meliputi biosekuriti tanaman, kepemimpinan perusahaan, manajemen penelitian perusahaan dan akademik, pengembangan kebijakan, dan manajemen operasi biosekuriti di sektor pemerintah dan swasta. Beliau memiliki gelar doktor di bidang Patologi Tumbuhan dari Universitas Australia Barat. Saat ini beliau menjabat sebagai Direktur Kesehatan Tanaman Australia dan Ketua Dewan Biosekuriti Australia Barat yang memberikan nasihat kepada pemerintah Australia Barat melalui Menteri Pertanian.