//

Sportswashing Qatar dan Piala Dunia FIFA 2022

Kami berpendapat bahwa Piala Dunia FIFA 2022 Qatar adalah sarana yang digunakan negara Qatar untuk memanfaatkan olahraga. Yang artinya, untuk mengalihkan pandangan dan perhatian dunia terkait pelanggaran moralnya.

Artikel ini telah ditulis oleh penulis pihak ketiga, yang independen dari Akademik. Artikel ini tidak serta merta mencerminkan pendapat editor atau manajemen Akademik, dan hanya mencerminkan pendapat penulis artikel.

Keputusan untuk menjadikan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia Pria FIFA diterima sebagai kejutan yang besar bagi sebagian besar orang-orang. Selain masalah kecil seperti Qatar yang terlalu hangat untuk menjadi tuan rumah pertandingan di musim panas, dimana Ketika ketika Piala Dunia biasa dimainkan, negara ini juga memiliki catatan hak asasi manusia yang buruk. Catatan ini sangat buruk dalam hal perlakuan terhadap pekerja migran, hak-hak perempuan, dan status individu LGBTQIA.

Tautan Video Pendek: World Cup CONTROVERSIES – Qatar 2022 #shorts

Menurut penyelidikan oleh The Guardian, 6.500 pekerja migran telah meninggal di Qatar sejak 2010, Ketika keputusan untuk menjadi tuan rumah putaran final dibuat. Diantara kematian tersebut, 37 orang terkait langsung dengan proses pembangunan stadion Piala Dunia. Dalam menjadi tuan rumah Piala Dunia, yang dihadiri oleh 3 miliar penonton, banyak yang merasa bahwa Qatar akan terlibat dalam pemanfaatan olahraga dalam mengubah pandangan masyarakat maupun dunia (Sportswashing). 

Apa itu sportwashing?

Istilah “sportwashing” diturunkan dari “whitewashing’, yang dengan sendirinya merupakan metafora yang melibatkan kapur atau cat yang digunakan untuk mengubah atau menutupi sesuatu menjadi putih. Whitewashing atau mengecat putih adalah praktik umum untuk menutupi aspek-aspek masalah atau keburukan dari perilaku seseorang untuk menampilkannya secara positif dan bagus.

Sports Washing adalah bentuk khusus dari whitewashing, di mana olahraga digunakan untuk mempromosikan citra positif dan untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran moral pelaku atau penggelar olahraga. Seperti yang  di katakan oleh Michal Kobierecki dan Piotr Strożek, ini dapat dilakukan dengan mengalihkan perhatian dari pelanggaran moral, meminimalkan kepentingannya, atau menampilkannya sebagai perilaku normal yang mana juga dilakukan oleh banyak orang lain. 

Dengan Piala Dunia tahun 2022 ini, salah satu kompetisi olahraga terpopuler di dunia digunakan untuk mempromosikan citra positif dari Qatar. Harapannya adalah peran positif yang dimiliki orang-orang dengan Piala Dunia akan dipindahkan ke tuan rumah dan orang-orang akan memandang lebih positif terhadap Qatar. Ketika orang memikirkan Qatar, mereka harus memikirkan Piala Dunia, bukan pelanggaran hak asasi manusia. Ketika orang mengetik Qatar ke Google, mereka harus menemukan halaman tentang sepak bola, bukan kondisi kerja yang tidak manusiawi terhadap buruh migran kelas bawah. 

Kasus ini sesuai dengan apa yang kami berpendapat sebagai fitur paradigma dari sportswashing: pelanggaran moral yang dimaksud serius dan sudah tersebar luas, bukan persoalan sepele dan terpencil, sperm washing adalah negara atau rezim, dan sportswashing dilakukan melalui penyelenggaraan acara yang strategis atau memperoleh entitas olahraga seperti Piala Dunia. Penyimpangan dari paradigma tersebut dimungkinkan dalam ketiga dimensi – mungkin perusahaan-perusahaan yang bersalah karena dosa-dosanya dalam sportswashing dengan terlibat dalam mensponsori pembangunan infrastruktur olahraga – tetapi kasus Qatar menunjukkan semua kriteria dengan cukup meyakinkan.

Apa yang salah dengan sportswashing?

Jawaban yang paling jelas adalah, jika berhasil dengan sportswashing pada Piala Dunia, maka akan memfasilitasi kelanjutan terhadap pelanggaran HAM Qatar. Sportswashing memungkinkan Qatar untuk menghindari biaya reputasi yang biasanya dikeluarkan dari keterlibatan dalam pelanggaran hak asasi manusia. 

Bukan hanya itu saja. Seperti yang telah kami kemukakan, sport washing juga merusak olahraga, baik yang memainkannya maupun yang menyukainya dalam dua cara. Pertama, sportswashing membuat para pemain sepak bola, jurnalis, dan penggemar terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia Qatar. Ini mungkin terdengar aneh pada awalnya. Pesepakbola dan penggemar sepak bola tidak mungkin mengeksploitasi pekerja migran dan menindas perempuan dan minoritas seksual, juga tidak pernah terlibat dalam perlakuan buruk terhadap pekerja migran. Jadi bagaimana mereka bisa terlibat dalam pelanggaran ini? 

Jawabannya adalah meskipun pemain, penggemar, dan jurnalis tidak melakukan pelanggaran ini, keterlibatan mereka dalam acara tersebut membuat sportswashing berhasil. Jika menjadi tuan rumah Piala Dunia membawa manfaat reputasi yang baik untuk Qatar, maka ini semua akan menjadi hal yang membuat Piala Dunia menjadi istimewa. Hal itu akan tergantung pada para pemain yang menghiasi turnamen dengan giringan bola yang luar biasa, penyelesaian akhir yang indah, dan jegalan yang keras. Itu akan tergantung pada semangat yang ditunjukkan oleh para penggemar, dari lagu-lagu kemenangan hingga wajah penuh air mata dari yang kalah. Itu tergantung pada deskripsi yang mengesankan dari para komentator dan analisis yang bijaksana dari para jurnalis. Kontribusi yang tak terlupakan dari para pemain, pelatih, jurnalis, dan lainnya dimanfaatkan dan digunakan oleh proyek sportswashing.

Sport Washing juga merusak hal yang berharga dalam olahraga. Piala Dunia adalah warisan olahraga yang berharga. Hal itu telah ada selama hampir seratus tahun. Pada saat itu, sudah menampilkan banyak pemain terhebat dan menciptakan beberapa momen sepak bola yang paling berkesan: penyelesaian luar biasa Carlos Alberto sampai perpindahan tim yang fantastis dari Brasil pada tahun 1970, giringan bola luar biasa Maradona dari lapangannya sampai lapangan lawan untuk mencetak gol melawan Inggris pada tahun 1986, dan kemenangan besar Senegal melawan Juara Eropa Prancis pada tahun 2002. Kenangan ini adalah bagian dari warisan budaya yang kaya dan para pemain tahu bahwa bermain di Piala Dunia memberi mereka kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka sendiri dalam sejarah yang panjang dan istimewa ini. Banyak penggemar mengukur hidup mereka dengan turnamen ini dan memiliki kenangan indah menonton pertandingan besar bersama teman atau keluarga mereka, termasuk mereka yang sudah tidak ada lagi. Sportswashing mengambil sumber daya budaya yang berharga ini dan menggunakannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang tidak bermoral. Dibutuhkan sesuatu yang suci dan menjadikannya tidak suci. 

Apa yang dapat dilakukan oleh mereka yang menyukai olahraga soal sportswashing? 

Bahkan jika kita ingin terlibat, kita dihadapkan pada pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan. Seperti yang diperdebatkan oleh Charlotte Knowles dan seperti yang kita setujui, seringkali kita memiliki kewajiban untuk menolak daripada mempertahankan keterlibatan kita. Satu jawaban yang jelas adalah bahwa penggemar dapat memboikot Piala Dunia. Pemain bisa menolak untuk bermain, jurnalis bisa menolak untuk meliput, dan penggemar bisa menolak untuk menonton. Jika semua pemain, penggemar, dan jurnalis melakukan ini maka mereka akan membuat pernyataan yang kuat menentang sport washing dan mencegah Piala Dunia digunakan dengan cara ini. 

Namun, memilih untuk boikot akan menjadi pengorbanan besar bagi banyak individu. Bagi pemain dan jurnalis, itu bisa berarti kehilangan momen terpenting dalam karir mereka. Pengorbanan yang mungkin cukup besar juga bagi banyak penggemar. Wales, misalnya, belum pernah ke Piala Dunia sejak 1958. Sebagian besar penggemar Wales tidak akan pernah melihat tim mereka bermain di Piala Dunia, dan mungkin bertanya-tanya kapan kesempatan mereka berikutnya. Meminta para penggemar ini untuk memboikot Piala Dunia merupakan permintaan yang terlalu besar, terutama karena boikot kemungkinan besar tidak akan efektif jika tidak mendapat dukungan massa. 

Namun, mungkin ada cara lain. Qatar hanya akan berhasil dalam sport washing jika orang lebih mengasosiasikan mereka dengan turnamen sepak bola yang luar biasa ketimbang dengan pelanggaran hak asasi manusia. Tapi ini mungkin tidak terjadi jika pemain, penggemar, dan jurnalis berulang kali menyoroti masalah ini dan tidak membiarkannya ditutup-tutupi.

Tim Norwegia telah memberikan contoh yang jelas tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan dengan mengenakan kaus dengan slogan "hak asasi manusia - di dalam dan di luar lapangan" dalam pertandingan kualifikasi melawan tim dari Gibraltar. Sementara gerakan ini dan yang serupa mungkin dianggap terlalu kecil untuk memicu perubahan nyata, menggunakan momen Piala Dunia untuk meningkatkan kesadaran akan pelanggaran hak asasi manusia dapat membantu secara khusus untuk menggagalkan ambisi Qatar dalam melakukan sportswashing.

Bahkan jika kita berani optimis sejenak, tentu kita terlalu berharap tinggi bahwa tim dan asosiasi olahraga bisa mengakhiri pelanggaran hak asasi manusia di Qatar. Namun, kita semua mungkin berharap bahwa akumulasi dari Tindakan-tindakan yang diambil untuk menjaga perhatian pada hak asasi manusia dapat menyebabkan Piala Dunia tahun ini menjadi bumerang dalam upaya sportswashing Qatar, dan menghalangi sportswashing di masa depan sebelum dimulai.

Alfred Archer adalah Asisten Profesor Filsafat di Universitas Tilburg di Belanda. Dia telah menerbitkan banyak buku tentang filsafat moral, filsafat emosi, dan filsafat olahraga, serta menjadi salah satu penulis buku Menghormati dan Mengagumi yang Tidak Bermoral: Panduan Etis. Dia adalah wakil ketua British Philosophy of Sport Association dan editor rekanan The Journal of Ethics.

Kyle Fruh adalah Asisten Profesor Filsafat di Duke Kunshan University. Ia telah menulis di sejumlah bidang etika, termasuk implikasi etis dari perubahan iklim, sifat dari kewajiban berjanji, dan kepahlawanan moral. Karyanya telah muncul di Pacific Philosophical Quarterly, The Journal of Value Inquiry, The Journal of Social Philosophy, dan The Southern Journal of Philosophy, di antara tempat-tempat lainnya.

Jake Wojtowicz menulis disertasi tentang Bernard Williams dan penyesalan agen di King's College London. Dia menulis tentang filosofi olahraga dan tinggal di Rochester, NY. Dia telah menulis di berbagai tempat termasuk The New Statesman, AEON, Philosophy, The Journal of the Philosophy of Sport, dan Sport, Ethics and Philosophy.