Vigilantes take it upon themselves to prevent, investigate, and punish perceived wrongdoings, usually in the absence of legal authority.
////

Berswafoto di situs-situs Holocaust: 'Digilantisme' di Instagram

Digilantisme, sebuah bentuk baru dari vigilantisme digital, melibatkan penghukuman atas tindakan yang dianggap salah secara online, dengan berswafoto di situs-situs Holocaust dan mendapat kecaman di Instagram.

Artikel ini ditulis oleh penulis pihak ketiga yang tidak terkait dengan The Academic. Artikel ini tidak mencerminkan pendapat editor atau manajemen The Academic, dan semata-mata mencerminkan pendapat penulis artikel.

Ketika kita berpikir tentang "keadilan" masyarakat, kita mungkin akan membayangkan penduduk desa yang marah dengan garpu rumput terangkat. Hal itu adalah main hakim sendiri (Vigilantisme), dan sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Para pelaku main hakim sendiri (vigilante) melakukan tindakan pencegahan, investigasi, dan menghukum orang yang dianggap melakukan kesalahan, biasanya tanpa otoritas hukum. 

Video Summary

But in internet times, a new type of vigilante has emerged: the digilante. Digilantism punishes others for perceived transgressions online, with the censure happening on social media and/or via real-life contact. They act when they feel that crimes have been committed or wrongdoing has occurred. In other words, digilantes enforce social rules based on their perceptions.

Investigating digilantism holds value as it allows us to comprehend two key aspects: the process of making and enforcing social rules and people’s perceptions of those social rules. In other words, digilantism provides essential insights into social norms more broadly.

Dalam artikel ini, kami berfokus pada salah satu lokasi digilantisme yang spesifik: pengawasan online dan kecaman terhadap orang-orang yang mengambil -dan mengunggahnya di Instagram— swafoto yang diambil di dua situs peringatan Holocaust: Museum Peringatan Auschwitz, di Polandia, dan Monumen Peringatan untuk Orang-Orang Yahudi yang Dibunuh di Eropa di Berlin, Jerman. Orang-orang yang mengambil dan mengunggah foto selfie di kedua situs bersejarah tersebut cenderung berusia muda.

Dalam analisis kami terhadap ratusan unggahan Instagram, kami menemukan bahwa usia, jenis kelamin, identitas linguistik-budaya (yaitu: bahasa dan kewarganegaraan), daya tarik penampilan, pose foto/ekspresi wajah, dan keterangan yang menyertai foto, semuanya mempengaruhi sejauh mana mereka menerima komentar digilantisme yang negatif. Dalam hal ini, kami menemukan bahwa orang yang lebih muda dan lebih menarik secara penampilan -terutama perempuan dan orang yang mengunggah foto dalam bahasa Inggris atau Jerman- menarik banyak digilantisme.

Sebaliknya, pengambil swafoto yang lebih tua dan tidak terlalu seksi, para pria, dan mereka yang mengunggah foto dalam bahasa, misalnya, Italia atau Rusia, cenderung diabaikan. Kecenderungan ini mungkin berkaitan dengan persepsi seksualisasi tubuh perempuan muda, khususnya dengan pose dan/atau pakaian beberapa perempuan dengan gaya yang 'mirip model'. 

Prediktor penting lainnya dari aksi digilante adalah keterangan dari si pengambil foto selfie. Para digilante akan menumpuk ketika keterangan tersebut menunjukkan kurangnya keterlibatan yang serius dengan sejarah dan ingatan Holocaust. Para pengambil foto yang memusatkan diri mereka dalam pose-pose artistik atau provokatif, mengedepankan lokasi tersebut sebagai lanskap kota dan tampaknya mengabaikan (atau bahkan tidak peduli?) akan kepentingan dan makna historisnya, akan lebih besar kemungkinannya ditegur. Sebaliknya, mereka yang berusaha untuk membenarkan dan bahkan mengintelektualisasikan swafoto mereka sering kali mendapat kecaman.

Mengambil swafoto dan wisata kelam

Pertanyaannya, mengapa ada orang yang mau berswafoto di Auschwitz atau Monumen Berlin? Sebenarnya, mengapa orang mengunjungi situs-situs peringatan Holocaust? Mengunjungi tempat-tempat seperti itu adalah contoh pariwisata kelam, which is travel and tourism associated with death and disaster. Selfie-taking, on the other hand, has been studied as part of a wider cultural movement linked to the routine consumption of tourism. So, whilst taking (sometimes fun, playful, even silly) selfies in places like Auschwitz is widely regarded as controversial and distasteful, we ask two questions that have not been widely discussed. First: is it better that young people engage with Holocaust sites in their way rather than not engaging? And second: are the digilantes self-centring and even virtue signalling —that is, undertaking identity work aimed at showing themselves in a positive light— through their comments, precisely as the selfie-takers do through their photos and comments?

Selfie - fotografi potret diri sendiri, biasanya diambil dengan ponsel pintar dan dibagikan melalui media sosial - sangat mendominasi ekspresi konsumsi pariwisata. Bahkan, swafoto di lokasi wisata telah menjadi kartu pos modern. Mengapa harus mengirim kartu pos satu per satu jika lusinan kartu pos digital dapat dikirim sekaligus, secara langsung, kepada semua orang yang sudah pernah kita temui, dan tanpa biaya? Praktik berbagi gambar pariwisata telah menjadi semacam pembuka percakapan visual, untuk menarik perhatian pada biografi perjalanan kita melalui foto-foto liburan yang unik. Platform media sosial yang berpusat pada gambar seperti Instagram dan Snapchat telah menjadi sangat populer dalam penggunaan dan kepentingan budaya secara umum, dan merupakan sarana utama berbagi gambar bagi para wisatawan pada umumnya.

Vigilantes take it upon themselves to prevent, investigate, and punish perceived wrongdoings, usually in the absence of legal authority.
Kredit. Midjourney

Namun, seperti yang disadari oleh seniman Israel-Jerman Shahak Shapira pada tahun 2017, masalah pengambilan dan pembagian swafoto di tempat yang secara fisik merupakan situs peringatan Holocaust menambah kerumitan dan kepanikan moral pada praktik keseharian para wisatawan dalam berinteraksi dengan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Dalam penelitian kami sebelumnya, kami mencatat bagaimana kode etik tampaknya semakin keras dalam hal apa yang dianggap sebagai perilaku yang 'dapat diterima secara moral', dan banyak pengunjung yang merasa tidak nyaman dengan pengambilan swafoto di tempat-tempat seperti kamar-kamar gas di Auschwitz atau di Monumen Peringatan Pembantaian Choeung Ek di Kamboja. Namun, bukannya berkurang popularitasnya, pengambilan dan berbagi foto selfie di lokasi wisata kelam masih terus berlanjut, terbukti dari banyaknya jumlah foto yang kami analisis di Instagram. Dan, seperti yang bisa Anda bayangkan, komentar-komentar yang muncul seringkali pedas.

Location is also important. While the Berlin Memorial sees plenty of ‘disrespectful’ tourist behaviour, it is rare to encounter flippant selfie-taking at Auschwitz. We suggest this because the Auschwitz Memorial Museum is a paid visitor attraction offering structured tours. It is also an iconic site familiar with film, literature, and current affairs. In contrast, the Berlin Holocaust Memorial is an art installation, always open and part of the streetscape: its purpose and meaning may not be immediately apparent. This leaves room for the possibility that some Holocaust-site selfie-taking is an innocent, playful, and accidental practice.

Why selfies shouldn’t be banned at Auschwitz

Apakah para digilante itu benar? Haruskah selfie-taking be banned at Holocaust memorial sites? We don’t think so. We feel that the point of dark-tourism memorials is to allow visitors a space to reflect and remember and engage in their own ways. Whilst playful selfie-taking seems disrespectful, we argue that it is more important to keep alive —however clumsily and imperfectly– the memory of the more than six million people murdered during the Nazi era (predominantly Jews, but also LGBTQIA+ people, Roma people, those with disabilities, and those who helped others to flee the Nazis). Perhaps this is best done through people living their ordinary, complex, messy and often joyous lives, precisely as the Nazis’ murder victims could not.

Therefore, our research invites tourism managers at sites of atrocity —as well as visitors and would-be digilantes— to look beyond the binary of un/acceptable and consider the possibility that engagement is nuanced. Despite accumulating digilante discourses on social media, there may be no ‘correct’ way to consume Holocaust heritage. Indeed, the practices of tourism consumption more broadly are complex and are shaped not least by visitors’ cultural and demographic backgrounds.

🔬🧫🧪🔍🤓👩‍🔬🦠🔭📚

Referensi jurnal

Wight, C., & Stanley, P. (2022). Holocaust heritage digilantism on Instagram. Tourism Recreation Research, 1-15. https://doi.org/10.1080/02508281.2022.2153994

Dr. Craig Wight adalah seorang lektor kepala di Fakultas Bisnis di Universitas Napier Edinburgh, dan telah menulis karya selama 18 tahun terakhir tentang wacana warisan genosida. Karyanya baru-baru ini mencakup studi netnografi tentang kunjungan ke situs-situs peninggalan Holocaust Eropa dan sebuah kolaborasi dengan Dr. Phiona Stanley tentang aktivitas 'digilantisme' di Instagram dengan menggunakan analisis etnografi dan analisis wacana.

Dr. Phiona Stanley adalah seorang lektor kepala di Fakultas Bisnis di Universitas Napier Edinburgh. Penelitiannya berfokus pada mobilitas dan bagaimana orang terlibat dalam lingkungan 'antarbudaya' dalam arti luas, termasuk pendidikan antarbudaya, bekerja di luar negeri, dan pariwisata, khususnya mobilitas olahraga/rekreasi di luar ruangan.